Penjelasan Lurah Susukan Soal Kabar Warganya yang Meninggal Akibat DBD
Berdasarkan keterangan yang diterima dari orangtua, Mukodas menyebut korban terjangkit penyakit radang dan demam selama satu pekan lebih
Penulis: Bima Putra | Editor: Muhammad Zulfikar
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra
TRIBUNJAKARTA.COM, CIRACAS - Lurah Susukan Mukodas angkat bicara terkait kabar seorang warganya yang meninggal karena terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD) ketika menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Pasar Rebo pada Jumat (29/3/2019) lalu.
Mukodas membenarkan bila warga RW 07 yang masih berusia 7 tahun itu meninggal, dokter RS Pasar Rebo yang menangani bocah malang itu juga tidak menyatakan atau tidak menyatakan bahwa bocah itu terjangkit DBD.
Namun merujuk surat kematian yang buat dokter RS Pasar Rebo, bocah malang itu meninggal karena terjangkit penyakit tidak menular sehingga DBD dipastikan bukan penyakit yang merenggut nyawanya.
"RS Pasar Rebo menyatakan bukan juga mengatakan bukan penyakit DBD, bukan. Tapi di surat kematian bukan penyakit menular, kalau DBD kan penyakit menular. Dari RS Pasar Rebo bukan menyatakan bukan DBD, tapi bukan penyakit menular," kata Mukodas di kantornya, Rabu (10/4/2019).
Berdasarkan keterangan yang diterima dari orangtua, Mukodas menyebut korban terjangkit penyakit radang dan demam selama satu pekan lebih.
Namun kondisinya sempat membaik selama dua hari sebelum di hari ketiga memburuk hingga dinyatakan pihak Puskesmas Kecamatan Ciracas kondisinya sudah parah.
"Sakitnya sudah seminggu lebih, tapi pas hari Senin, Selasa sudah sembuh. Tapi pas hari Rabu kondisinya drop lagi. Kamis dibawa ke Puskesmas, di sana dinyatakan sudah parah radangnya. Akhirnya dirujuk ke Pasar Rebo," ujarnya.
• Jangan Merokok, Jika Tak Mau Kesehatan Mulut Terganggu
• Catat! Layanan SKCK dan SIM Libur 4 Hari Saat Sebelum Hingga Sesudah Pemilu 2019
• Jakarta Utara Bakal Punya Jembatan Instagramable
Kala dibawa ke RS Pasar Rebo, bocah yang belum mengenyam bangku pendidikan Sekolah Dasar itu disebut tak mengalami syok berat layaknya korban DBD.
Menurutnya, lingkungan RT 07/RW 07 tempat bocah tersebut tinggal terbilang bersih meski jalan menuju rumahnya hanya jalan setapak.
Pada kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) beberapa waktu setelah pemakaman, dari sejumlah rumah yang diperiksa hanya satu rumah yang kedapatan jentik nyamuk Aedes Aegypti.
"Sampai sekarang ada sembilan kasus DBD di Kelurahan Susukan, tapi enggak ada meninggal. Semuanya sudah sembuh, untuk yang kasus anak ini dokter menyatakan kalau dia meninggal bukan karena penyakit menular," tuturnya.
Sebagai informasi, dari seluruh kasus DBD di Provinsi DKI sejak Januari 2019 tercatat ada dua korban DBD yang keduanya merupakan warga Jakarta Timur, yakni Kecamatan Matraman dan Jatinegara.