Polemik Ratna Sarumpaet

Vonis 2 Tahun Penjara Ratna Sarumpaet: Timbulkan Keonaran, Bukan Tutupi Operasi Plastik

Ratna mengirimkan beberapa foto wajahnya yang lebam pada 25 September 2019. Dia kemudian memberikan keterangan singkat "not for public".

Penulis: Erik Sinaga 2 | Editor: Muhammad Zulfikar
TribunJakarta.com/Annas Furqon Hakim
Ratna Sarumpaet usai menjalani sidang putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (11/7/2019). 

"Jika tidak cepat teratasi oleh Kepolisian maka keributan dan keonaran pasti terjadi," ujar Hakim.

Namun, Hakim menilai bibit-bibit keonaran belum mereda setelah polisi mengungkap hasil investigasinya.

Jadi Tersangka, Penulis Status Tak Pasang Foto Presiden: Saya Menyesal Tak Bijak di Media Sosial

Biarkan 11 Juru Parkir Liar, YLKI Kritik Pengelola Parkir Pasar Perumnas Klender

VIDEO Jemaah Calon Haji Ketahuan Bawa Enam Slof Rokok

Pablo Benua dan Rey Utama Ditangkap Ternyata Karena Hilangkan Barang Bukti Video Ikan Asin

Padahal Ratna juga telah menggelar konferensi pers dan mengakui kebohongannya itu.

Hakim berpendapat seharusnya Ratna sadar ceritanya akan menimbulkan reaksi keras dan cepat pada era digital ini.

Masyarakat yang sedang terpolarisasi akibat Pilpres 2019 juga menjadi mudah tersulut.

Atas pertimbangan itu, Hakim pun tidak sependapat bahwa tidak terjadi keonaran dalam penyebaran kebohongan ini.

"Sudah cukup apabila benih-benih keributan itu telah tampak terjadi dan muncul di masyarakat. Oleh karenanya Majelis tidak sependapat dengan pengacara bahwa keributan dan keonaran harus benar-benar telah terjadi dan hanya dapat dihentikan dengan kekuatan aparat keamanan," ujar Hakim.

"Menimbang berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka Majelis berkesimpulan unsur kesengajaan menimbulkan keonaran di rakyat telah terpenuhi," tambah Hakim.

4. Ratna tidak terima disebut menimbulkan keonaran

Terdakwa kasus penyebaran berita bohong, Ratna Sarumpaet mengaku kecewa dengan vonis yang dijatuhkan hakim.

Dia menilai kebohonganya tidak berpotensi menimbulkan keonaran.

Hal tersebut berseberangan dengan pendapat majelis hakim yang menilai kebohonga Ratna dapat menimbulkan benih-benih keonaran.

"Kalau ada alasan lain mungkin saya lebih bisa menerima. Tetapi karena di dalam logika dasar saya keonaran itu bukan seperti yang saya lakukan," kata Ratna usai jalani persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (11/7/2019).

"Ya saya rasa memang seperti yang saya katakan di awal persidangan ini, bahwa ini politik. Jadi saya sabar aja," imbuhnya.

Halaman
1234
Sumber: KOMPAS
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved