Tari Cokek, Akulturasi Budaya Tionghoa-Betawi yang Sempat Dianggap Vulgar
Mengenakan kebaya Betawi warna kuning dan selendang merah yang diikat di perut, Henny Lim memeragakan Tarian Cokek.
Penulis: Elga Hikari Putra | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
"Gerakan ini berawal dari kegelisahan kita terhadap rasa keberagaman, toleransi dan kebhinekaan masyarakat yang dirasa mulai hilang, makanya ada ide untuk melalukan kampanye keberagaman melalui acara tari," kata Eva, Minggu (18/8/2019).
Setelah menggelar kegiatan Tari Cokek di Jakarta, Eva menyebut kegiatan serupa juga akan digelar di beberapa kota lain di Indonesia hingga 28 Oktober mendatang yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.
• Pacaran 5 Tahun Gagal Nikah Gara-gara Weton, Gadis Pekalongan Ini Trauma dan Ucap Ini
• Ramalan Zodiak Cinta Besok, Senin 19 Agustus 2019: Hubungan Taurus Menguat, Cinta Leo Sedang Bersemi
• Mengaku Sering Pulang Malam, Ussy Sulistiawaty Beri Uang Jajan Anak Hingga Rp 1 Juta Per Hari
• Kronologi Ibu Hamil Terima Obat Kedaluwarsa dari Puskesmas, Bahaya Bagi Tubuh hingga Diduga Terselip
Nantinya, tiap-tiap kota akan menarikan tarian asli wilayah tersebut yang kini sudah jarang dipentaskan dan terancam punah.
"Jadi tujuan agar kebudayaan yang seolah sudah dilupakan bisa kembali kita lestarikan sebagai bentuk keberagaman di Indonesia," kata Eva.