Lebih Bagus Gabion Atau Getih Getah? Simak Serba-serbinya Berikut Dana dan Tanggapan Anies

Berbeda dengan getih getah yang dibuat dari bambu, gabion kini dibuat dengan berbahan batu. Gabion sendiri merupakan batu bronjong yang disusun

Penulis: Erik Sinaga 2 | Editor: Erik Sinaga
KOMPAS.COM/RYANA ARYADITA UMASUGI/Instagram @Aniesbaswedan
Kolase getah getih dan gabion 

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR- Lokasi bekas pemasangan instalasi seni getih getah kini tak lagi kosong. Sesuai pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan beberapa waktu lalu bahwa lokasi yang berada di sekitar Bundaran HI, Jakarta Pusat tersebut akan sering dipasangi instalasi seni.

Benar saja, kini tempat tersebut telah dibangun sebuah instalasi lainnya yang diberi nama gabion.

Namun, lagi-lagi gabion menuai kontroversi layaknya getih getah. Mengapa?

Berbahan batu

Instalasi batu Gabion yang menghiasi kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Rabu (21/8/2019).
Instalasi batu Gabion yang menghiasi kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Rabu (21/8/2019). (TRIBUNJAKARTA.COM/DIONSIUS ARYA BIMA SUCI)

Berbeda dengan getih getah yang dibuat dari bambu, gabion kini dibuat dengan berbahan batu.

Gabion sendiri merupakan batu bronjong yang disusun dan dan ditahan menggunakan rangka besi.

Batu yang disusun pun terdiri dari berbagai ukuran. Terdapat tiga instalasi yang diletakkan secara berdampingan.

Dua instalasi setinggi kurang lebih 160 centimeter dan satunya setinggi kurang lebih 180 centimeter.

Di atas gabion terdapat rumput hijau dan dihiasi bunga bougenville putih dan merah.

Di sekitar instalasi tersebut pun dihiasi berbagai macam tanaman, yakni lidah buaya dan bougenville berwarna ungu, putih, dan merah.

Juga terdapat batu-batu berwarna coklat dan pasir putih. Kondisi ini cukup kontras dengan lokasi HI yang identik dengan gedung tinggi dan modernitas.

Menelan dana Rp 150 juta

Untuk membangun instalasi ini, Pemprov DKI Jakarta mengucurkan anggaran Rp 150 juta untuk membuat instalasi gabion.

Kepala Dinas Kehutanan DKI Jakarta Suzi Marsitawati mengatakan, anggaran untukinstalasi gabion itu diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Dinas Kehutanan DKI Jakarta.

"Anggaran Rp 150 juta. Ini didesain dan dirancang sendiri oleh Dinas Kehutanan," ujar Suzi saat dihubungi, Rabu (21/8/2019).

Suzi mengatakan, pihaknya sengaja membuat instalasi gabion yang terbuat dari tumpukan batu kali dan kawat supaya biayanya terjangkau.

Disebut menyerap polusi

Di sekitar instalasi itu, ditanami tanaman-tanaman sansevieria (lidah mertua), lollipop, dan bugenvil yang dapat menyaring polusi.

"Kemarin itu penanamannya dalam rangka (Hari Ulang Tahun) Kemerdekaan Republik Indonesia. Kami mau menggambarkan informasi tanam-tanaman (anti)-polutan, narasinya sedang kami buat. Di lokasi itu kami contoh tanam-tanam (anti)-polutan," kata Suzi.

Ia menyebut, instalasi gabion itu dapat berfungsi kurang lebih dua tahun ke depan. Suzi tak menutup kemungkinan setelah itu akan ada jenis instalasi lain yang akan dipasang di lokasi tersebut.

"Namanya instalasi bisa berganti-berganti, tiap ornamen kota itu berganti-ganti, dinamis sifatnya. Tergantung Dinas Kehutanan mau ganti atau enggak. Misalkan ada yang lebih bagus, lebih menarik, supaya warga enggak bosan," kata Suzi.

Pro kontra masyarakat

Layaknya instalasi getih getah, pembuatan gabion juga tuai kontroversi dari masyarakat.

Apalagi biayanya yang terbilang cukup besar. Salma Dewi (27) mengatakan, jika dilihat, instalasi tersebut kurang menarik.

Menurut dia, justru lebih baik kalau hanya dijadikan taman biasa yang dipenuhi bunga.

"Kurang enak dipandang ya kalau menurut aku. Karena kayak susunan batu tinggi. Ya mungkin aku kurang ngerti seni, cuma buat orang awam kurang menarik," kata Salma kepada Kompas.com, Kamis (22/8/2019).

Ketika mengetahui anggaran pembuatan tersebut, Salma menilai bahwa Pemprov DKI justru menghamburkan anggaran.

"Mending buat kepentingan yang lain enggak sih? Biaya Rp 150 juta kan banyak banget itu. Mending dibikin taman atau apa," ucap dia.

Warga lain, Nirwansyah (32), memandang pembangunan instalasi ini sebagai hal positif. Menurut dia, instalasi seni tidak hanya dilihat dari kacamata awam.

"Mungkin saja ada filosofinya kan. Kadang orang awam lihat seni kan anggapnya jelek, tapi justru itu seninya," ujarnya. Ia pun mengapresiasi jika Pemprov DKI bisa lebih sering menghadirkan instalasi seni di tengah masyarakat.

"Enggak apa-apa kalau sering, apalagi hanya di tengah kota gini kan," tutur karyawan swasta ini.

Berbeda dengan Nirwan, Zahri Adrian (28) justru menilai anggaran yang digunakan untuk instalasi batu terlalu besar, padahal anggaran itu bisa digunakan untuk kepentingan lain.

"Saya pikir apa pemerintah kebanyakkan duit ya? Sampai bentukan batu begini saja Rp 150 juta. Mungkin bisa difokusin buat pengendalian polusi yang lain aja sih," kata dia.

Tanggapan Anies

Menanggapi hal ini, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut pemasangan instalasi gabion (batu bronjong) di Bundaran HI hanyalah bagian dari penataan kota.

Namun yang membuat instalasi tersebut jadi bahan perbincangan karena posisinya berada di Jakarta Pusat.

"Sudah lama, sudah berapa hari (pemasangannya). Biasa saja, itu bagian dari tata taman kota, seperti juga penataan taman-taman yang lain. Normal-normal saja, cuma karena tempatnya di bundaran HI, ramai pula. Ini Jakarta, pusat pula," ucap Anies di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Kamis (22/8/2019).

Anies menyebut rancangan tersebut langsung dari Dinas Pertamanan (Dinas Kehutanan) DKI Jakarta.

Tujuannya hanyalah untuk mempercantik kota layaknya taman-taman lainnya di DKI Jakarta.

"Taman biasa. Itu rancangannya dari dinas pertamanan. Namanya kan nanti dinas pertamanan dan hutan kota. Jadi rancangan begitu sama seperti taman-taman yang lain. Tentu lah, memang untuk apalagi kalau bukan mempercantik," kata dia.

Getah getih hanya 11 bulan

Sejumlah masyarakat antre untuk berfoto di depan karya instalasi Getah-getih yang diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di kawasan Bundaran HI Jakarta Pusat Minggu, (19/8/2018)
Sejumlah masyarakat antre untuk berfoto di depan karya instalasi Getah-getih yang diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di kawasan Bundaran HI Jakarta Pusat Minggu, (19/8/2018) (TribunJakarta.com/Pebby Ade Liana)

Bekas lokasi pemasangan instalasi bambu Getih Getah di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, kini menyisakan rangkaian tanaman.

Instalasi tersebut dibongkar pada Rabu (17/7/2019) malam setelah bertahan selama 11 bulan.

Saat itu Getih Getah dibuat oleh seorang seniman bernama Joko Avianto atas permintaan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Anies menyampaikan keinginannya untuk membuat sebuah karya seni dari material khas Indonesia dalam rangka menyambut perhelatan Asian Games 2018.

"Jadi bambu adalah salah satu material asli Indonesia yang memiliki keuletan yang luar biasa," kata Anies ketika itu.

Anies kemudian memberikan tantangan kepada Joko untuk bisa membuat karya seni dengan memanfaatkan bambu yang merupakan material khas Indonesia.

"Bikin kami orang Indonesia bangga dengan bambu Indonesia, hari ini kita merasa bangga dengan bambu Indonesia itu," ujar Anies.

Dibuat dengan Biaya Rp 550 Juta

Karya seni ini tak sekadar karya seni biasa. Karya tersebut mempunyai makna dan arti.

Instalasi itu ditopang oleh puluhan pilar-pilar bambu yang tertancap kokoh.

Dipilihnya bambu sebagai bahan pembuatan juga menyimbolkan perjuangan bangsa Indonesia yang menggunakan bambu saat berjuang demi kemerdekaan.

Joko mengatakan, konsep karya seninya diberi nama "Getih Getah Pasukan Majapahit".

Konsep ini diambil dari makna perjuangan pasukan Majapahit yang memiliki makna kekuatan dan persatuan. Konsep ini sengaja dibuat untuk menyambut dua event terbesar dalam waktu dekat, peringatan hari Kemerdekaan ke-73 RI dan Asian Games.

Desain karya seni dibuat dengan menyerupai bandera-bendera yang dibawa prajurit Majapahit saat berperang.

"Getah itu putih, getih itu merah, artinya merah putih. Pasukan Majapahit sudah pakai bendera itu zaman dulu, tapi bukan bersatu merah dan putih, belum bersatu," ujarnya.

Keberadaan karya seni ini memang terbilang sangat kontras dengan kondisi Bundaran HI yang modern, gedung-gedung tinggi dan megah yang ada di sekitarnya.

Joko mengatakan, karya ini bersifat instalasi seni dan bukan monumental.  Bedanya, instalasi seni bambu memiliki keterbatasan umur yang lebih singkat dibanding sebuah ornamen.

"Ini bukan ornamen, dan sifatnya seni instalasi bukan monumen. Dia memang punya keterbatasan umur. Tapi, kualitas bisa menyerupai karya-karya monumen. Kualitas dan bentuk menyerupai (monumen), tapi bahan tidak bisa menipu," ujar Joko.

Tri Susanti, Korlap Massa yang Geruduk Mahasiswa Papua Surabaya: Ini Panggilan Jiwa Untuk NKRI

Foto-foto Mantan Bupati Garut Aceng Fikri Dibawa Satpol PP Kota Bandung Saat Menginap di Hotel

Suparman Sulap Nmax Jadi Warteg Keliling: Ojek Online Jadi Langganan, Rezeki Nomplok Saat Demo

Karya seni ini menghabiskan 1.500 bambu dengan ketinggian sekitar 20 meter dan lebar 13 meter.

Ada 73 bambu penyangga yang menyimbolkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan lalu meresmikan instalasi Bambu "Getih Getah" pada Kamis (16/8/2019).

Biaya pembuatan serta pemasangan instalasi seni bambu tersebut, menurut Anies, menelan biaya hingga Rp 550 juta.

"Biaya sekitar Rp 550-an (juta) kemudian dikonsorsium oleh 10 BUMD kalau enggak salah," ucap Anies di lokasi.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Gabion, Instalasi Batu Seharga Rp 150 Juta yang Tuai Pro Kontra... dan  Pembuatan Instalasi Bambu Getih Getah Habiskan Dana Hingga Rp 550 Juta Namun Hanya Bertahan 11 Bulan

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved