Perginya Guru Idola, Uang Jajan untuk Si Bungsu Hilang di Lokasi Tabrakan, Sang Anak Ungkap Menyesal

Beberapa pekan sebelum meninggal kecelakaan, guru idola itu bercerita soal temannya yang meninggal kecelakaan. Sedihnya, uang saku untuk anak hilang.

Penulis: Y Gustaman | Editor: Siti Nawiroh
Tribun Sumsel/Shinta Dwi Anggraini
Almarhum Bambang Pudi Astomo, guru SMP Negeri 35 Palembang dilepas secara kedinasan dari rumah duka, Rabu (4/9/2019) pagi. Ia meninggal dalam kecelakaan di depan jalan lintas Indralaya-Palembang, tepatnya di depan GT KTM Rambutan Palindra, Selasa (3/9/2019) sekira pukul 16.00 WIB. 

TRIBUNJAKARTA.COM, PALEMBANG - Pantaslah Bambang Pudi Astomo (59) menjadi guru idola: ramah, humoris, mampu menghidupkan suasana kelas.

Di hari mengantar uang jajan dan baju untuk Misbach Hilal Afif, guru SMP Negeri 35 Palembang itu tewas.

Sebuah truk BG 8220 XA menabrak Supra Fit BG 3926 PV yang Bambang kemudikan, Selasa (3/9/2019).

Rahmat (40) sang sopir kabur, sementara Bambang tergeletak di jalan lintas Palembang-Indralaya, tepatnya di depan GT KTM Palembang-Indralaya.

Kesaksian Orang Dekat Tentang Subana, Sopir Dump Truck Tersangka Tabrakan Beruntun di Tol Cipularang

Hidup Mati Sparta Ditentukan 14 Hari ke Depan, Bima Aryo Kasih Pesan Khusus

Detik-detik Rampok Lucuti Pakaian Karyawati Minimarket, 4 Bulan Kemudian Tewas Ditembak

Obrolan 2 Sopir Dump Truck, Pengemudi Xenia, Fortuner, dan 2 Saksi Tabrakan Beruntun di Cipularang

Saya Lihat Papa Dimasukkan ke Ambulans

Sudah pukul 13.00 WIB, Bambang yang paling Misbach Hilal tunggu-tunggu tak kunjung datang.

Telepon anak bungsunya itu tak kunjung Bambang angkat.

"Saya coba hubungi, tapi papa tidak angkat," kata Misbach Hilal.

Almarhum Bambang Pudi Astomo, guru SMP Negeri 35 Palembang. Ia meninggal dalam kecelakaan di depan jalan lintas Indralaya-Palembang, tepatnya di depan GT KTM Rambutan Palindra, Selasa (3/9/2019) sekira pukul 16.00 WIB.
Almarhum Bambang Pudi Astomo, guru SMP Negeri 35 Palembang. Ia meninggal dalam kecelakaan di depan jalan lintas Indralaya-Palembang, tepatnya di depan GT KTM Rambutan Palindra, Selasa (3/9/2019) sekira pukul 16.00 WIB. (Tribun Sumsel/Shinta Dwi Anggraini)

Sejak kuliah di Jurusan Kimia Fakultas MIPA UNSRI, Misbach Hilal acap dikunjungi ayah atau ibunya, bergantian.

Mereka datang untuk mengantarkan uang saku atau kebutuhan lainnya untuk si anak.

Tak tentu waktunya, pernah seminggu sekali, kadang beberapa hari sekali.

Beberapa jam kemudian, saat mengerjakan tugas di asrama, ibunya datang menjemput.

Mereka menuju Puskesmas Indralaya dan tiba pukul 16.00 WIB.

"Di situ saya lihat papa dimasukkan ke mobil ambulans," kenang Misbach Hilal.

Ia menyesal tak sempat bertemu ayahnya saat diwawancarai, Rabu (4/9/2019).

Misbach Hilal Alif (18) putra bungsu Bambang Pudi Astomo (59), guru SMP Negeri 35 Palembang. Bambang meninggal dalam kecelakaan di depan jalan lintas Indralaya-Palembang, tepatnya di depan GT KTM Rambutan Palindra, Selasa (3/9/2019) sekira pukul 16.00 WIB.
Misbach Hilal Alif (18) putra bungsu Bambang Pudi Astomo (59), guru SMP Negeri 35 Palembang. Bambang meninggal dalam kecelakaan di depan jalan lintas Indralaya-Palembang, tepatnya di depan GT KTM Rambutan Palindra, Selasa (3/9/2019) sekira pukul 16.00 WIB. (Tribun Sumsel)

Pesan berulang ayahnya masih terngiang terus di telinga Misbach Hilal: semangat dan rajin belajar.

Sang ayah biasa mengantar uang, pakaian, dan keperluan Misbach Hilal yang menetap di asrama mahasiswa.

"Kadang seminggu sekali, kadang beberapa hari sekali, tidak tentu," kata remaja 18 tahun itu.

Di Puskesmas Indralaya, Sri tak bisa menguasai emosinya melihat sang suami sudah terbujur kaku penuh luka.

Seketika ia menangis tersedu sambil merangkul anaknya dan meminta jenazah suaminya ditutup.

"Saya tidak kuat melihat jenazahnya dalam keadaan seperti itu," ujar Sri.

Kematian sudah jadi ketetapan Tuhan dan Sri ikhlas menerimanya.

"Saya ikhlas, mau bagaimana lagi inikan sudah takdir," ujarnya.

Jenazah Bambang dimakamkan di TPU Gunung Semeru Plaju dan dilepas secara kedinasan.

Misbach Hilal azan dan kakaknya, Hidayat Fadilah, mengumandangkan iqamat di dekat kepala jenazah sang ayah saat di liang kubur.

Sri Ambarwati (52), istri Bambang Pudi Astomo (59), guru SMP Negeri 35 Palembang. Bambang meninggal dalam kecelakaan di depan jalan lintas Indralaya-Palembang, tepatnya di depan GT KTM Rambutan Palindra, Selasa (3/9/2019) sekira pukul 16.00 WIB.
Sri Ambarwati (52), istri Bambang Pudi Astomo (59), guru SMP Negeri 35 Palembang. Bambang meninggal dalam kecelakaan di depan jalan lintas Indralaya-Palembang, tepatnya di depan GT KTM Rambutan Palindra, Selasa (3/9/2019) sekira pukul 16.00 WIB. (Tangkapan layar YouTube Tribun Sumsel)

Cerita Kematian ke Sesama Guru

Beberapa pekan sebelumnya, Bambang bercerita soal kematian rekannya yang kecelakaan di Tol Indralaya.

"Kata dia, temannya itu patah juga," ungkap Kepala SMP Negeri 35 Palembang Eny Fadilah di rumah duka, Jalan KH Balqi Banten IV, Gang Rukun, Palembang, Rabu (4/9/2019).

Guru mata pelajara IPA Fisika itu terluka parah: kaki kiri putus, pergelangan kaki kanan dan kepala robek.

"Kecelakaan itu sama seperti yang terjadi ke Pak Bambang. Itulah yang buat kami sangat syok," sambung Eny.

Beberapa hari ini Eny dan sejumlah guru menangkap hal tak biasa dari Bambang.

"Biasanya mengarahkan murid untuk bersih-bersih. Tapi beberapa hari ini langsung turun tangan sendiri," terang Endy.

Neyza Azzahra, siswa kelas VIII, sempat menyalami Bambang beberapa jam sebelum meninggal.

Bambang yang suka bercanda dengan murid-muridnya lebih banyak diam, raut wajahnya sedikit pucat.

"Pak Bambang lebih diam, tak seperti biasanya suka bercanda. Wajahnya juga terlihat pucat," ujar Neyza.

Almarhum Bambang Pudi Astomo, guru SMP Negeri 35 Palembang dilepas secara kedinasan dari rumah duka, Rabu (4/9/2019) pagi. Ia meninggal dalam kecelakaan di depan jalan lintas Indralaya-Palembang, tepatnya di depan GT KTM Rambutan Palindra, Selasa (3/9/2019) sekira pukul 16.00 WIB.
Almarhum Bambang Pudi Astomo, guru SMP Negeri 35 Palembang dilepas secara kedinasan dari rumah duka, Rabu (4/9/2019) pagi. Ia meninggal dalam kecelakaan di depan jalan lintas Indralaya-Palembang, tepatnya di depan GT KTM Rambutan Palindra, Selasa (3/9/2019) sekira pukul 16.00 WIB. (Tribun Sumsel/Shinta Dwi Anggraini)

Kematian Bambang mengejutkan guru-guru, termasuk Neyza dan murid-murid lainnya.

"Sempat syok juga, rasanya tidak percaya. Kemarin masih bertemu di sekolah," kata Neyza.

Lain yang dialami Sri Ambarwati (52). Satu malam Bambang sempat berseloroh tak mengapa kalau harus mati.

Malam itu Sri melarang Bambang karena hendak sembarang minum obat untuk meredakan batuknya.

"Mau minum obat apa saja, tidak apa-apa juga kalau harus mati," timpal Bambang ditirukan sang istri.

Sri terkejut dengan ucapan Bambang dan tak menyangka itu petanda suaminya akan meninggalkannya.

"Tidak menyangka sekali," ujarnya.

Tahun depan, Bambang pensiun tapi ia lebih dulu menghadap Sang Khalik.

Suka Antar Jemput Anak

Bambang di sekitar lingkungan rumahnya dikenal sebagai family man.

Saking sayangnya ia rela mengantarkan uang saku untuk Misbach Hilal yang berkampus di Indralaya.

Murid-murid SMP Negeri 35 Palembang menghadiri pemakaman guru mereka, Bambang Pudi Astomo (59), Rabu (4/9/2019). Ia meninggal dalam kecelakaan di depan jalan lintas Indralaya-Palembang, tepatnya di depan GT KTM Rambutan Palindra, Selasa (3/9/2019) sekira pukul 16.00 WIB.
Murid-murid SMP Negeri 35 Palembang menghadiri pemakaman guru mereka, Bambang Pudi Astomo (59), Rabu (4/9/2019). Ia meninggal dalam kecelakaan di depan jalan lintas Indralaya-Palembang, tepatnya di depan GT KTM Rambutan Palindra, Selasa (3/9/2019) sekira pukul 16.00 WIB. (Tribun Sumsel/Agung Dwipayana)

Pria yang dikenal lembut ini sangat ramah kepada semua orang.

Sejak anaknya masih di sekolah dasar, Bambang terbiasa mengantar jemput.

Jarak sekolah anaknya sekitar 700 meter dari rumah Bambang di Gang Rukun Banten 4 Palembang.

"Seingat saya Pak Bambang ini sejak anaknya SD sudah biasa antar jemput," ujar tetangga.

Sementara sebagai guru Bambang sangat disenangi muridnya

"Orangnya baik, jika mengajar jarang marah," ujar Indra, mantan murid Bambang.

Paling Indra ingat, Bambang tak segan berjalan kaki dari rumah ke sekolah tempatnya mengajar.

Terkadang saat pergi atau pulang mengajar, Bambang bersama anak-anak didiknya.

Tak ubahnya seorang ayah yang sayang dengan anaknya sendiri.

Dahlia, rekan sesama guru dengan Bambang mengaku sedih.

"Almarhum orangnya ramah, dia juga baik dan suka bercanda. Kami sangat kehilangan sosok beliau, "ujar Dahlia.

Sementara Syafril, salah satu petugas mengatakan upacara pelepasan jenazah \secara kedinasan merupakan bentuk penghormatan atas pengabdian Bambang.

Bambang telah mengabdi sebagai ASN selama kurang lebih 30 tahun.

"Beliau juga masih tergabung dalam PGRI Palembang," ujar Syafril.

Uang Sangu Anak Hilang di Lokasi Tabrakan

Uang jajan yang Bambang bawa untuk Misbach Hilal tak genap Rp 2 juta.

Tapi, sampai mayatnya dibawa ke Puskesmas Indralaya, uang jajan untuk anaknya yang Bambang bawa hilang.

Sri pun tak tahu ke mana uang yang dibawa almarhum suaminya itu.

"Walau uangnya tidak banyak, tapi kami ingin tahu kejelasan uang itu ada dimana," ujar Sri.

"Saat itu bapak belum ketemu sama anak saya. Kecelakaannya sebelum sampai di Indralaya," imbuh Sri.

Baru sebulan kuliah, Misbach Hilal belum memegang ATM, begitu juga mahasiswa lain.

"Saya dan bapak yang sering antar uang ke Indralaya. Gantian kami ke sana," ungkap ibu dua anak ini.

Sudah sering Sri melarang Bambang pergi ke Indralaya mengendarai sepeda motor.

Tak sekali dua ia menyarankan Bambang untuk naik angkutan kota atau travel.

Permintaan Sri selalu Bambang tolak, alasannya terlalu lama menunggu travel atau angkot yang lewat. (Tribun Sumsel)

Sumber: Tribun Sumsel
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved