Fenomena Api Keluar dari Tanah Gegerkan Warga Ponorogo, Apa Karena Ini Penyebabnya?

Fenomena api keluar dari tanah di Dukuh Ringin Surup, Desa Kupuk, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Editor: Suharno
dok. BPBD Ponorogo
Petugas BPBD Kabupaten Ponorogo memadamkan api yang keluar dari tanah di Dukuh Ringin Surup, Desa Kupuk, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Fenomena api keluar dari tanah di Dukuh Ringin Surup, Desa Kupuk, Kecamatan Bungkal Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, menggegerkan warga setempat.

Api yang keluar dari tanah itu muncul di lahan milik Bonatun itu sudah terjadi dalam satu bulan terakhir.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo Setyo Budiono membenarkan informasi mengenai fenomena api yang keluar dari tanah warga itu.

Budi mengatakan, api yang keluar dari tanah itu diduga karena limbah jamu.

"Itu bukan fenomena alam. Tetapi diduga karena limbah jamu yang dikubur di area tersebut," kata Budi saat dikonfirmasi, Jumat.

Fenomena api muncul dari retakan tanah di Ponorogo.
Fenomena api muncul dari retakan tanah di Ponorogo. (BPBD Ponorogo via Pemkab Ponorogo.go.id)

Sejarah Ambulans: Dari Mengangkut Tentara Terluka Hingga Warga Sakit, Ini Sosok Penemunya

Menurut Budi, kejadian api keluar dari tanah sudah menjadi hal yang biasa.

Hal itu dipastikan setelah ia berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

"Menurut PVMBG, kejadian seperti ini sudah biasa dan tidak berlangsung lama," kata Budi.

"Selain itu, kejadian api keluar dari tanah tidak hanya terjadi di Ponorogo saja," sambungnya.

Budi mengatakan, wilayah Kecamatan Bungkal tidak memiliki potensi sumber daya alam seperti gas dan minyak.

Pelajar SMA Tewas Saat Berangkat Demo ke DPR: Pamit Terakhir Bagus ke Mama Aku Telat Mau Main Dulu

Dengan demikian, dapat dipastikan api yang keluar dari tanah bukan karena gas alam atau minyak bumi.

Budi menjelaskan, sebelum dijadikan tempat pembuangan limbah jamu, tanah seluas 8 x 15 meter itu pernah digali sedalam 3 meter untuk pembuatan batu bata.

Setelah itu, tempat itu dibuat pembuangan sampah jamu.

Sampah jamu itu diduga mengeluarkan gas di saat musim kemarau, akibat panas yang tinggi.

Menurut Budi, kondisi itu mengakibatkan munculnya bara api di dalam tanah.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved