Efek Rumah Kaca, Konduktor Kritis Penjaga Demokrasi
"Kemanusiaan itu. Seperti terang pagi. Rekahkan harapan. Menepis kabut kelam," ribuan suara mahasiswa di pelataran parkir Kampus UIN Jakarta, Ciputat.
Penulis: Jaisy Rahman Tohir | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir
TRIBUNJAKARTA.COM, CIPUTAT - "Kemanusiaan itu. Seperti terang pagi. Rekahkan harapan. Menepis kabut kelam," ribuan suara mahasiswa lepas ke udara dipimpin konduktor Efek Rumah Kaca di atas panggung pada acara Ciputat Memanggil, Mendesak Tapi Santuy di pelataran parkir Kampus UIN Jakarta, Ciputat, Rabu (17/10/2019).
Lagu berjudul "Rahim Ibu" begitu karib bagi ribuan mahasiswa yang hadir pada acara dengan jargon #reformasidikorupsi itu.
Efek Rumah Kaca menjadi bintang sekaligus penutup acara.
Semangat pergerakan yang masih tersisa setelah rangkaian aksi beberapa waktu lalu, kembali menyala disulut lirik-lirik kritis band yang terbentuk sejak 2001 itu.
"Di Udara" dan "Mosi Tidak Percaya" bergantian dinyanyikan Cholil Mahmud, sang vokalis.
Latar betotan bass dari Poppie Airil dan pukulan halus snare drum Akbar Bagus Sudibyo membentuk nada-nada magis yang menyihir ribuan mahasiswa turut bernyanyi bersama.
Di atas panggung, Cholil dengan gaya terpaku depan mikrofon berdiri, seperti tengah mengumandangkan sabda lewat nada tinggi nan merdunya.
Sementara Poppie begitu menikmati musik yang dibuatnya sendiri. Badannya bergerak maju mundur seperti tanpa kontrol, hanya mengikuti irama.
Pukulan snare Akbar laiknya genderang yang membangkitkan semangat ribuan mahasiswa kembali ke jalannya.
Jadilah malam yang sejuk itu, semacam orkestra besar yang membuat merinding bagi siapa saja yang menyaksikannya
Seperti diketahui, Efek Rumah Kaca memang memiliki misi tersendiri yang disuarakan lewat musiknya.
Dari mulai isu HAM, lingkungan, politik hingga sosial tak luput dari garapan musik Efek Rumah Kaca.
"Ngamen" di kampus bukan yang pertama dilakukan Efek Rumah Kaca. Mereka tidak lelah berkeliling ke kantong-kantong pergerakan dari mulai kampus sampai gedung KPK yang kerap dijadikan lokasi aksi membela lembaga antirasuah itu.
Cholil bercerita kepada TribunJakarta.com, apa sebenarnya motif dari band yang sudah menelurkan tiga album itu, untuk mau ikut dalam sekena pergerakan, utamanya mahasiswa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/efek-rumah-kaca-di-parkir-kampus-uin-jakarta-1.jpg)