Efek Rumah Kaca, Konduktor Kritis Penjaga Demokrasi
"Kemanusiaan itu. Seperti terang pagi. Rekahkan harapan. Menepis kabut kelam," ribuan suara mahasiswa di pelataran parkir Kampus UIN Jakarta, Ciputat.
Penulis: Jaisy Rahman Tohir | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Menurut Cholil Indoensia saat ini sudah memiliki sistem terbaik, yakni demokrasi.
Namun ancaman terus berdatangan, seperti pelemahan KPK dan pasal-pasal ngawur pada RKUHP. kehadiran Efek Rumah Kaca ada dalam upaya mempertahankan demokrasi.
"Merasa mendapatkan sistem demokrasi ini layak diperjuangkan gitu. Jadi kalau ada gejala-gejala yang membahayakan demokrasi, sangat digarapkan orang itu turun memperjuangkan, karena ini semangat demokrasi adalah dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat, jadi sudah mesti rakyat ikut memantau, ikut turun, bukan hanya lima tahun sekali, karena demokrasi yang kita jalanin setiap hari," ujar Cholil.
• Syahrul Gunawan Optimis Lolos Jadi Calon Bupati Bandung: Saya Tidak Ingin Sombong
• Polda Metro Jaya Ringkus Anggota dan PNS BNN, Diduga Jual 2,5 Kg Sabu
Bagi Cholil, Indonesia belum seujung kuku menjalani demokrasi.
Budaya turun ke jalan masih dilakukan sampai sekarang di negeri yang bahkan sudah lebih lama memberlakukan demokrasi sekalipun.
"Kita pasti ingin tentu saja damai, supaya terus membesar karena di negara-negara demokrasi yang sdah lama, turun ke jalan upaya memperjuangkan demokrasi terus ada sampai sekarang gitu, apa lagi kita yang baru 20 tahun sudah menjelang enak-enak dan ini mau direnggut, kita mempertahankan saja sekuat mungkin," ujarnya.
Tentu mempertahankan tenaga dan semangat untuk terus bernyanyi menyuarakan kritik bukan hal yang mudah.
Namun bagi Efek Rumah Kaca, di situlah perannya. Selagi masih kuat mereka terus bersuara.
"Ya mumpung masih bisa lah, dari pada nanti nyesel, kita masih punya tenaga tapi kita enggak berusaha, paling enggak sudha mengusahakan yang sebisa mungkin. Cape ya sudahlah ya. Biasa, kerja juga cape," ujarnya.
Cholil dan kawan-kawan tidak tahu kapan harus berhenti. Hal itu karena target mereka bukan meraih, melainkan mempertahankan demokrasi.
"Sampai kita bisa mempertahankan demokrasi," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/efek-rumah-kaca-di-parkir-kampus-uin-jakarta-1.jpg)