Demo di Jakarta

Sebut Penggembosan Gerakan Mahasiswa, Ketua Dema UIN Jakarta Mengaku Diancam Sampai Ditawari Uang

Sebagai pemimpin mahasiswa di UIN Jakarta, Sultan sambil mengatakan, uang yang ditawarkan kepadanya tidak sedikit.

Sebut Penggembosan Gerakan Mahasiswa, Ketua Dema UIN Jakarta Mengaku Diancam Sampai Ditawari Uang
TRIBUNJAKARTA.COM/JAISY RAHMAN TOHIR
Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Jakarta, Sultan Rivandi, saat ditemui di kampus UIN Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (25/9/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, CIPUTAT - Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Jakarta, Sultan Rivandi mengaku, dirinya sampai diancam bahkan ditawari uang agar tidak berunjuk rasa.

"Saya secara pribadi dan mungkin secara umum mahasiswa, upaya penggembosan itu ada dan memang nyata dan saya rasakan secara pribadi. Namun kekhawatiran saya dan kami yang ada di Dema terkondisikan dengan semangat mahasiswa yang mau terus berjuang, jadi pada akhirnya kekhawatiran itu ditimbun oleh semangat mahasiswa lainnya," ujar Sultan di UIN Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan, saat acara diskusi dan panggung musik bertajuk Mendesak Tapi Santuy, Rabu (17/10/2019).

Sebagai pemimpin mahasiswa di UIN Jakarta, Sultan sambil mengatakan, uang yang ditawarkan kepadanya tidak sedikit.

Namun ia tegas menolaknya, dan kembali ke arah jalan perjuangan bersama ribuan mahasiswa lainnya.

"Banyaklah, banyaklah kira-kira, tapi itu saya katakan dan tegas bahwa idealisme tidak akan mungkin bisa terbeli. Mental memperjuangkan kebenaran tidak akan bisa tergadaikan. Itulah otentifikasi mahasiswa yang sebenar-benarnya," ujarnya.

Selain upaya penggembosan, hal yang membuat goyang pergerakan mahasiswa adalah trauma yang timbul dari kericuhan pada aksi-aksi sebelumnya.

Tindakan aparat dengan gas air mata dan water cannon, serta sweeping untuk menahan di Polda Metro Jaya, tak dapat dipungkiri membuat mahasiswa trauma.

Namun UIN Jakarta berjanji akan kembali turun ke jalan dengan strategi yang lebih apik.

"Oh trauma itu pasti ada. Mungkin agak meredam setelah itu. Ketakutan itu pasti ada, tapi kita atur srrateginya serapi mungkin agar tidak terjadi korban dan kerusuhan seperti itu," ujarnya.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved