Kisah Kakek Sumanta Bantu Potong Kambing Hitam dan Putih Sehari Setelah Tragedi Bintaro
Saat tragedi Bintaro yang merenggut nyawa ratusan orang itu terjadi, Sumanta (75), warga sekitar turut membantu mengevakuasi korban.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Kecelakaan itu terjadi di antara Stasiun Pondok Ranji dan pemakaman Tanah Kusir.
Peristiwa itu, menewaskan hingga 156 orang.
Presiden ke-2 RI, Soeharto pun sempat menyambangi lokasi kejadian peristiwa terburuk dalam lembar sejarah Kereta Api Indonesia itu.
Cerita Muhini Mengingat Tragedi Bintaro 32 Tahun Silam: Punya Benda Kenangan dari Kereta
Sudah 32 tahun silam, tragedi kecelakaan kereta api Bintaro terkubur dalam kenangan Muhini (70), saksi kejadian pada kejadian tragis itu.
Di kediamannya yang tak jauh dari rel kereta api, ia bersedia menggali kembali penggalan-penggalan ingatan itu menjadi sebuah cerita.
Sambil bercerita, suara deru kereta api yang melaju di tengah bekapan udara yang gerah sesekali terdengar nyaring di telinga.
Katanya, di sekitar lokasi kejadian tabrakan saat itu masih terhampar empang, sawah dan pepohonan.
Belum ada permukiman padat yang menghiasi sepanjang rel kereta seperti saat ini.
Warga yang tinggal di sana pun hanya segelintir orang, salah satunya keluarga Muhini yang memiliki delapan orang anak itu.
Kecelakaan maut itu, lanjut Muhini, terjadi sekira pukul 07.00, pada 19 Oktober 1987.
Kereta pagi hari, lanjut Muhini, selalu mengangkut banyak penumpang.
Kala itu, ia baru hendak berangkat berjualan nasi uduk dan es teh manis ke sekolah.
"Bunyi tabrakan kedua kereta itu seperti bom, itu kejadian begitu saya mau berangkat jualan," kenangnya kepada TribunJakarta.com pada Senin (21/11/2019) di kediamannya, RT 005 RW 009, Kelurahan Bintaro, Jakarta Selatan.
Sejak kejadian itu, Muhini dan suaminya turut membantu mengevakuasi para korban kecelakaan itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/sosok-sumanta-75-tragedi-bintaro-1987.jpg)