Kisah Kakek Sumanta Bantu Potong Kambing Hitam dan Putih Sehari Setelah Tragedi Bintaro

Saat tragedi Bintaro yang merenggut nyawa ratusan orang itu terjadi, Sumanta (75), warga sekitar turut membantu mengevakuasi korban.

TribunJakarta/Satrio Sarwo Trengginas
Sosok Sumanta (75), Saksi kejadian di sekitar lokasi kejadian saat Tragedi Bintaro 1987 terjadi pada Senin (21/11/2019). 

"Masih ada sampai sekarang peninggalan kereta itu, tripleks dari gerbong kereta. Itu buat kenang-kenangan saya," ungkapnya.

Ia mengenang, dulu kayu lapis itu berlumuran oleh darah.

Usai dibersihkan, kayu lapis itu dijadikan daun pintu untuk salah satu ruangan di rumahnya.

"Tripleks itu sampai dikasih surat kepemilikan. Jadi kalau ada yang nanya bisa tunjukkin itu," lanjutnya.

Ia akan menyimpan pintu itu sebagai kenang-kenangannya.

Bahkan, bila rumahnya terkena gusur oleh pemerintah, ia akan membungkus pintu itu dan disimpannya.

Sebab, tak ada lagi warga di sekitarnya yang memiliki peninggalan tragedi Bintaro itu selain keluarganya.

"Pintunya enggak mau saya apa-apain lagi, kalau kena gusur saya bungkus pintunya. Enggak saya jual. Orang-orang enggak punya, saya doang yang punya," tambahnya.

Kepala Daerah Ini Mendadak Jadi Perbincangan karena Pamit kepada Warganya, Sinyal Jadi Menteri?

Gelar Operasi, Petugas Gabungan Amankan Puluhan Botol Miras dari Acara Dangdutan

Lokasi kejadian tragedi Bintaro
Lokasi kejadian tragedi Bintaro (TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas)

Acara Doa Bersama Saban Tahun

Saat TribunJakarta.com menyambangi sekitar lokasi tragedi Bintaro, terpasang sejumlah spanduk bertuliskan peringatan terkait kejadian itu.

"1987. 32 thn. 2019, 19 oct Tragedi Bintaro," begitu tulisnya di kain berwarna putih yang kedua sudut kain diikat di batang pohon.

Pengunjung yang ingin mengabadikan spanduk itu dengan kamera pun diingatkan untuk tidak melintasi rel melalui papan kayu di pinggir jalan.

Setiap tahun, spanduk itu terbentang di sekitar lokasi kejadian tabrakan untuk memperingati tragedi maut yang membuat ratusan nyawa manusia melayang.

Selain itu, saban tahun warga sekitar acapkali mengadakan acara doa bersama di salah satu rumah warga.

"Saban tahun di tanggal 19 Oktober selalu diadakan acara tahlilan. Kemarin dari lurah hingga Anggota dewan datang ikut doa," tambah Muslih (37), anak bungsu Muhini.

Dulu, lanjut Muslih, tak sedikit keluarga korban yang datang untuk tabur bunga di sepanjang rel kereta api.

Bahkan, kenangnya, salah satu penumpang yang harus kehilangan kaki kirinya, bernama Juned rutin datang ke lokasi itu untuk menabur bunga.

Muhini menambahkan, saksi hidup di sekitar lokasi kejadian sudah terbilang sedikit.

Ia mengaku hanya keluarganya lah yang benar-benar merasakan dan mengalami kejadian Tragedi Bintaro.

"Saya benar-benar tahu kejadian itu," tandasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved