Kisah Kakek Sumanta Bantu Potong Kambing Hitam dan Putih Sehari Setelah Tragedi Bintaro
Saat tragedi Bintaro yang merenggut nyawa ratusan orang itu terjadi, Sumanta (75), warga sekitar turut membantu mengevakuasi korban.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Rumahnya, saat itu, menjadi tempat sementara jasad itu dievakuasi.
Ada juga yang dikumpulkan di lapangan bola di belakang rumahnya.
"Dulu ada lapangan, mereka banyak yang dibaringkan di sana. Sekarang udah enggak ada lapangannya. Udah jadi kontrakan," kenangnya.
Kendaraan yang melintas di antaranya mobil pribadi, angkutan umum, bus hilir-mudik membantu mengangkuti jasad-jasad yang bergelimpangan di lokasi kejadian.
Jasad itu dievakuasi dari lapangan bola menuju Balai Rakyat dekat lokasi.
Muhini, yang tinggal tak jauh dari lokasi kejadian merasa terpanggil untuk membantu petugas saat mengevakuasi badan kereta.
"Tukang lasnya kan banyak yang motong besi kereta di lokasi. Saya bantu bikinin teh. Ngurusin para petugasnya saat kerja," terangnya.
Selama kira-kira seminggu petugas sibuk mengevakuasi jasad penumpang hingga badan kereta di rel Bintaro itu.
Kejadian yang menewaskan 156 orang itu hingga mengundang perhatian Presiden ke-2 RI, Soeharto.
Muhini sempat melihat Soeharto turun dari helikopter untuk melihat ke lokasi kejadian.
Saat itu, helikopter itu turun di dekat area lokasi kecelakaan.
"Saya melihat pak Harto turun dari helikopter di atas sawah. Tapi beliau hanya sebentar saja, melihat ke lokasi kejadian. Helikopternya warna kuning," bebernya.
Papan kayu dari Kereta Dijadikan Kenang-kenangan
Ada benda yang masih tersisa di rumah keluarga Muhini dari kejadian maut berpuluh-puluh tahun silam itu.
Muhini masih menyimpan material berupa kayu lapis dari gerbong kereta itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/sosok-sumanta-75-tragedi-bintaro-1987.jpg)