Mengapa Penderita Stroke Harus Melakukan Hidroterapi? Ini Jawabannya
Pada umumnya, penyakit stroke menyebabkan seseorang menjadi sulit untuk berjalan atau bergerak.
Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liani
TRIBUNJAKARTA.COM, KEBAYORAN BARU - Pada umumnya, penyakit stroke menyebabkan seseorang menjadi sulit untuk berjalan atau bergerak.
Pada kasus tertentu, penyakit jenis ini juga menyebabkan seseorang sulit untuk berbicara.
Sukono Djojoatmodjo, dokter spesialis saraf mengatakan, ada beberapa cara atau tahapan yang biasa diberikan dokter kepada pasien penderita stroke dalam memberi pengobatan kepada pasien.

Salah satunya, melalui terapi otot.
Namun, selain melakukan terapi gerakan secara manual, terapi ini ternyata juga bisa dilakukan di dalam air atau yang biasa disebut dengan Hidroterapi.
"Indikasi dilakukannya terapi ini ada beberapa. Salah satunya, kadang pasien tidak nyaman. Misalnya saat dilatih dia kesakitan, saat dilatih di tempat tidur dengan gerakan-gerakannya itu kesulitan, nah umumnya kita cari solusi lain yaitu dengan Hidroterapi ini," kata dr. Sukono dalam acara Open House Klinik Wijaya, Pusat Terapi Robotik Pasca Stroke, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (3/11/2019).
Ia mengatakan, seorang penderita penyakit Stroke diperbolehkan melaksanakan terapi di dalam air dengan beberapa catatan.
Salah satunya adalah dengan tingkat kekakuan otot tertentu.
Otot yang tegang atau kaku, menyulitkan penderita untuk bergerak atau melakukan gerakan terapi manual saat berada di atas air. Baik saat di kasur, atau berjalan.
Nah, melalui dalam air, penderita bisa lebih mudah menggerakan beberapa gerakan terapi lantaran beban tubuh menjadi lebih ringan saat berada di dalam air.
Apalagi, Hidroterapi juga dilakukan dengan menggunakan air hangat. di Klinik Wijaya, dr Sukono mengatakan bahwa kolam yang disiapkan berisi air hangat bersuhu hingga 33 derajat celcius.
"Dengan air hangat, makan otot-otot kita akan terasa lebih rilex dan mudah dilakukan rehabilitasi," paparnya.
Meski terapi ini lebih memudahkan pasien saat dilakukan, namun menurut dr Sukono tak seluruh penderita stroke disarankan untuk melaksanakan terapi jenis ini.
Pasalnya, dalam melaksanakan terapi ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Semua itu tergantung dengan assesment atau catatan dari dokter spesialis yang menangani.