Sisi Lain Metropolitan
Ayah Meninggal Tertabrak Kereta, Kakak Adik Ini Jualan Bakpao Keliling untuk Jajan
Usai ayahnya meninggal dunia, sang Ibunda, Jas (33) bekerja banting tulang menghidupi dirinya dan 2 saudaranya.
Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Wahyu Aji
Diam-diam berdagang
Sebelum bertemu dengan bos bakpao yang akrab disapa Umi, Tya menuturkan sempat berdagang jengkol di Pasar Induk.
Selama 5 hari, ia membantu Jas berdagang dan tak sengaja bertemu dengan Umi saat menjajakan jengkol.
Umi yang melihat Tya, segera mengajaknya berkomunikasi.
"Dek, kamu mau enggak jualan bakpao saya?," ujar Umi saat itu.
Dengan hati yang penuh keraguan, akhirnya Tya berucap mau.
"Mau bu. Saya mau," ucapnya.
"Nanti saya upahin Rp 20 ribu," balas Umi.
Sejak saat itulah Tya sering keluar rumah pagi dan pulang malam hari serta membolos ngaji.
Meski tak sekolah, Tya tetap mengaji di lingkungan rumahnya di Gang H. Ali, Kramat Jati, Jakarta Timur, saban bakda Magrib.
"Waktu awal-awal saya enggak bilang sama Emak (Mama). Lama-lama dia marah karena saya pulang malam terus."
"Akhirnya Umi bilang sama Emak kalau saya jualan. Akhirnya enggak diomelin," ungkapnya.
Pada akhirnya Jas tahu, namun ia menasihati Tya tetap bisa berjualan tapi harus pulang paling telat pukul 17.00 WIB.
Jas mengkhawatirkan kondisi Tya apalagi lingkungan rumah yang sepi.
"Jalanan di sini sepi, banyak culik. Ini zaman gila," ucapan emaknya yang selalu Tya ingat.
"Sekarang Tya bawa bakpaonya enggak banyak, habis enggak habis. Yang penting sore sudah pulang, karena malamnya ngaji," jelas Tya.
Tya hanya mengingat pesan Ibunya untuk menyuruhnya selalu hati-hati dan tak lagi pulang malam.
TONTON JUGA: