Pengamanan Jemaah Umrah di Bandara Soekarno-Hatta Diperketat Pengecekan Buku Kuning
KKP Kelas 1 Bandara Soekarno-hatta memperketat pemeriksaan terhadap jemaah umrah yang akan bertolak ke Tanah Suci dari Terminal 3.
Penulis: Ega Alfreda | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda
TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas 1 Bandara Soekarno-hatta memperketat pemeriksaan terhadap jemaah umrah yang akan bertolak ke Tanah Suci dari Terminal 3.
Pengetatan pengawasan dilakukan terhadap Internasional Certificate of Vaccination (ICV) atau yang lebih dikenal dengan sebutan buku kuning.
Kepala KKP Kelas 1 Bandara Soekarno-Hatta, Anas Ma'ruf mengatakan, pengetatan pengawasan buku kuning karena jemaah calon umrah yang mendapatkan buku itu berarti telah divaksinasi Meningitis.
"Untuk awal tahun 2020 ini, kami akan melakukan pemeriksaan lebih ketat lagi di pintu keluar. Jadi pengawasan terhadap keaslian ICV diperketat," kata Anas di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Jumat (10/1/2020).
Oleh karenanya, Anas mengimbau agar penyelenggara perjalanan ibadah umrah atau travel umrah dan haji agar memastikan bahwa seluruh jemaah yang diberangkatkan membawa buku ICV yang asli.
Sebab, buku kuning adalah bukti bahwa para jemaah calon umrah telah divaksinasi secara resmi.
"Vaksinasi meningitis ini sangat diperlukan sebenarnya untuk melindungi jemaah umrah itu sendiri, keluarganya dan lebih penting adalah melindungi negara kita dari kemungkinan masuknya penyakit," ujar Anas.
• DPRD DKI Pastikan Wacana Pembentukan Pansus Banjir Bukan Bertujuan Serang Gubernur Anies Baswedan
• Kesaksian Tetangga Satu Keluarga Dianiaya di Depok : Anaknya Datang Berlumuran Darah
Ia menjelaskan, hingga saat ini pihaknya belum menemukan kasus jemaah calon umrah yang positif mengidap meningitis saat kembali ke tanah air.
"Kewaspadaan tetap kami lakukan. Jadi seluruh jemaah umrah yang pulang melalui Bandara Soetta, itu dilakukan pengawasan menggunakan thermal scanner serta surveillance syndrome," jelas Anas.
Menurutnya, kalau ada jemaah yang pulang terindikasi membawa penyakit akan ditahan dulu untuk diberikan pengobatan lebih lanjut.