Sisi Lain Metropolitan
Sedihnya Bolot Dua Tahun Jadi Badut Mampang, Uang Hasil Ngamen Dibelikan Motor Tapi Digadai Anak
Pria tua yang akrab disapa Pak Bolot ini sehari-hari menjadi badut mampang di Kranggan, Jatisampurna, Kota Bekasi. Sedih saban ingat kelakuan anak.
Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Y Gustaman
Hasil mengamen yang tak menentu selama ini Pak Bolot sisihkan lebih banyak untuk membeli keperluannya kelak ia meninggal.
Uang yang ia kumpulkan akan dibelikan kain kafan, tikar pandan, liang lahat, hingga biaya pengajian, seperti pengajian 3 harian pascameninggal.
Dari uang itulah yang Pak Bolot ambil untuk membeli motor bekas awal tahun ini sebagai transportasinya menuju Kranggan.
"Semenjak kejadian itu saya sudah enggak mau kenal lagi sama anak dan menantu saya," katanya.
Namun, untuk cucunya masih ia izinkan untuk bertemu dengannya.
"Jadi, cucu datang bilang, 'kakek saya mau ini.' Pasti saya belikan kalau ada uangnya," jelasnya.
"Buat saya cucu itu enggak ada salah. Yang salah itu orangtuanya."
"Sampai nanti setelah meninggal pun saya enggak mau nyusahin anak menantu saya."
"Makanya saya kerja begini buat masa depan. Saya sudah enggak mau kenal mereka," ungkap Pak Bolot.
Selain itu, yang semakin membuatnya semakin terluka ketika mengetahui kenyataan perihal sikap anaknya.
Menurut dia banyak orang di kampungnya mengetahui bila anak perempuannya itu sering melawan terhadap mertua.
"Biar bagaimapun mertua adalah orangtua. Di sana (kampung) dulu juga pada tahu kalau dia enggak berbaktilah."
"Sudah enggak berbakti kepada orangtua, kepada mertua juga sama."
"Padahal biaya sekolahnya dia boleh saya kerja keras dari dulu," katanya.
Saat ini, Pak Bolot hanya berharap anak menantunya segera bertobat.
Ia berjanji tidak akan menyusahkan keduanya.
Meski begitu, doa selalu Pak Bolot panjatkan agar anaknya mendapatkan hidayah dan mengubah kelakuannya.
"Hasil jerih payah saya aja diungkit karena menggunakan nama suaminya."
"Jadi saya hanya berdoa supaya keduanya segera mendapatkan hidayah," tandas dia.