Sisi Lain Metropolitan
Dapat Nasi Bungkus Gratis dari Warteg, Ini Suara Pilu Para Ojol: Sepi Orderan, Jarang Makan Siang
Beberapa pengendara ojek online yang baru datang tak kebagian nasi bungkus sebagai santapan siang mereka
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Erik Sinaga
"Alhamdulilah membantu (nasi bungkus). Kadang-kadang dari siang sampai sore belum ada tarikan. Kemarin, pagi saya makan bubur baru ketemu nasi pas malem," bebernya.
Ia mengatakan orderan sepi di ponselnya lantaran perusahaan aplikasi tempatnya bekerja tak banyak menawarkan banyak promosi kepada konsumen.
Konsumen lebih memilih aplikator transportasi online lain yang lebih banyak menawarkan diskon makanan.
"Kalau istilahnya di Grab lebih banyak promo makanan, jadi mereka (konsumen) pilih ke sana. Customer bilang gitu ke saya," ujar pengendara Gojek tersebut.
Pengendara Grab lainnya, Erida Rahayu (22) bila tak ada orderan sampai siang, ia jarang makan.
Pendapatannya menurun drastis lantaran ia tak bisa mengambil layanan antar penumpang. Sedangkan untuk layanan barang lebih sedikit untuk saat ini.
Bagi-bagi 130 Bungkus Nasi Gratis

Selama masa sulit ini, Jaya (35), pemilik Warteg Jaya Bahari, sebenarnya juga mengalami penurunan penghasilan.
Namun, berkat kerjasama dengan sebuah lembaga kemanusiaan dan perusahaan layanan keuangan, usaha wartegnya tak jadi tutup.
Jaya diberikan sejumlah dana untuk membuat 130 nasi bungkus untuk dibagikan cuma-cuma kepada masyarakat kecil.
Nasi bungkus dibagikan sesuai dengan waktu yang ditentukan pihak pemberi dana.
Dari pemberian dana itu, Jaya mendapatkan 10 sampai 25 persen keuntungan.
Meski tak banyak, hasilnya masih bisa untuk biaya karyawan, dan listrik warteg.
"Selain buat amal, kegiatan ini ada juga buat kita," ungkapnya.
• Remaja Tanggung Menjambret di Condet: Emak-emak Jadi Korban, Jalan Ditutup, Ini Respons Polisi
• 2 Oknum Anggota Polisi Dituntut Hukuman Mati Terkait Kasus Narkotika
• Benarkah Teh Panas dan Lemon Ampuh Bunuh Virus Corona? Simak Penjelasan Dokter
Pasalnya, banyak pengusaha warteg yang pendapatannya turut terdampak.
Selama pandemi Corona, langganan Jaya menghilang sementara waktu.
"Di sini yang dateng biasanya banyak mahasiswa, tapi karena libur ya enggak ada. lagian kalau mau masak juga hasilnya nombok (rugi). Misal masak modalnya Rp 700 ribu, dapet sehari paling Rp 300 ribu. Kalau di sini kan makanannya sehari udah ganti lagi," pungkasnya.