Breaking News:

Masker Medis dan Hand Sanitizer: Dulu Diburu Kini Sepi Pembeli, Ini Curhat Pedagang di Bekasi

Pandemi Covid-19 membuat warga sempat memburu masker medis. Namun, kini masker medis tak diminati. Ini curhat pedagang di Bekasi.

TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar
Toko Obat Rizki di Jalan Mayor Oking, Pasar Proyek, Kota Bekasi. 

Harga cairan pembersih tangan itu mulai turun meski belum mendekati harga normal.

Seperti yang terjadi di sejumlah toko obat di kawasan Pasar Proyek Bekasi Timur, harga handsanitizer untuk merek Nouvo dari yang sebelumnya dijual 40 ribu isi 300 mili liter kini harganya Rp20.000 per botol.

"Kalau normalnya sekitar Rp15.000 kalau enggak salah untuk merek Nouvo," kata Masur (62) pemilik Toko Obat Rizki, Jumat, (1/5/2020).

Dia menambahkan, untuk jenis handsanitizer botol ukuran besar 500 mili, Mansur menjual seharga Rp150.000 turun dari harga sebelumnya mencapai Rp185.000 per botol.

"Itu yang bagus Rp185.000 sekarang turun jadi Rp150.000, nanti enggak tahu sebulan lagi normal lagi Rp75.000 harganya untuk merek CosmoMed," paparnya.

Penurunan harga ini sudah terjadi sejak dua pekan terakhir, Mansur menilai, minat pembeli yang menurun jadi faktor penurunan harga.

"Turun peminatnya udah berkurang, banyak yang bikin juga dari bahan alkohol, alkohol sekarang seliter Rp70.000 kemarin emang sempet mahal alkohol Rp110 per liter," jelasnya.

Curhat Pedagang Eceran

Harga masker medis selama selama ini melambung tinggi jauh dari harga normal, kondisi ini menurut sebagian pihak ulah dari para penimbun yang berusaha mencari untung besar di tengah pandemi Covid-19.

Mansur (62), merupakan pedagang masker eceran yang biasa berjualan di Toko Obat Rizki, Jalan Mayor Oking, Pasar Proyek Bekasi Timur, sangat merasakan dampak kenaikan harga masker medis.

Sebagai pedagang eceran, Mansur yakin kenaikan harga masker disebabkan karena ulah para oknum penimbun.

"Saya yakin ada permainan juga, harga mahal itu kata orang ada penimbun saya percaya karena emang pasti ada yang nimbun," kata Mansur.

Sebelum pandemi Covid-19, tokonya biasanya menerima stok barang masker medis dari distributor dengan jumlah cukup banyak.

Berburu Takjil Pasar Lama Tangerang di Tengah Pandemi Covid-19

Ancam Bongkar Masjid Karena Tak Terima Imbauan Ibadah di Rumah, Takmir Minta Maaf: Bentuk Aspirasi

PSBB Tangsel Diperpanjang, Berpotensi Diterapkan Selama 28 Hari

Tapi ketik pandemi Covid-19 dan perminataan masker dari masyarakat meningkat, barang dari distributor justru berkurang.

"Distributor enggak mau ngirim, biasanya kita dapat jatah dua karton, paling (ketika mulai pandemi) kita dikasi lima box atau 10 box, sisanya mereka jual ke yang berani mahal, itu kan permainan," tegas dia.

Menurut dia, indikasi paling nampak adanya penimbunan ialah, ketika berkurangnya stok barang yang biasa dia terima.

Seharusnya, jika memang kebutuhan meningkat, distributor tidak mengurangi pengiriman barang di tokonya.

"Orang pada cari duit, inimah bukan langka tapi di pasaran kosong, produksikan jalan terus kemana barangnya," ucapnya.

Mansur menilai, pemerintah dalam hal ini penegak hukum kurang begitu tegas dalam menindak oknum pedagang besar yang mencoba menimbun masker.

"Karena tindakannya kurang, kalau emang terbukti tangkap, tangkap beneran proses, jangan pedagang kecil (eceran) yang dicurigain kan nimbun," tegas dia. (TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar)

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved