Breaking News:

Kader PDIP Protes Benderanya Dibakar

Polisi Kawal Massa PDIP Tangsel Unjuk Rasa saat PSBB, Wakapolres: Sebenarnya Tidak Diperkenankan

Luckyto menyebut dasar hukum pihaknya mengizinkan unjuk rasa adalah Perwal, namun ia tidak menyebutkan nomor dan pasalnya.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir | Editor: Wahyu Aji
TRIBUNJAKARTA.COM/JAISY RAHMAN TOHIR
Wakapolres Tangsel, Kompol Stephanus Luckyto, di Mapolres Tangsel, Jalan Raya Promoter, Serpong, Senin (29/6/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, SERPONG - Unjuk rasa massa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) berlangsung meriah di depan Mapolres Tangerang Selatan (Tangsel) Jalan Raya Promoter, Serpong, Senin (29/6/2020).

Ratusan massa dari kader dan simpatisan partai berlogo kepala banteng itu tumpah ruah menutupi sebagain besar jalan di depan kantor polisi.

Seragam warna merah yang dikenakan, semakin memperjelas massa aksi yang mengaku pengikut aliran Sukarno itu.

Namun keramaian itu terlihat ganjil mengingat Tangsel masih menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Kerumunan sudah tidak terhindarkan. Jaga jarak minimal satu meter pun tidak diindahkan.

Animo solidaritas mendesak aparat untuk bergerak cepat menangkap pelaku pembakaran bendera PDIP saat demonstrasi menolak Rancangan Undang-undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila (HIP) di gedung DPR MPR Jakarta, Rabu (24/6/2020) itu, lebih besar dibandingkan memperhatikan protokol kesehatan.

Sekira satu jam massa berkumpul, akhirnya ratusan "banteng Tangsel" itu membubarkan diri.

Wakapolres Tangsel, Kompol Stephanus Luckyto, mengatakan, konsenterasi massa dalam jumlah besar tidak diperkenankan.

"Ya sebenarnya tidak diperkenankan, karena kan memang kalau menurut Perwal selama PSBB yang ke lima ini memang secara orang berkumpul sudah boleh lebih dari lima orang. Itu saja sih memang dasarnya itu," ujar Luckyto di lokasi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved