Breaking News:

Sisi Lain Metropolitan

Cerita Tukang Permak di Halte Mati Sunda Kelapa, Pelangganya Nelayan, Bule Hingga Gilang Dirga 

Ini cerita Casmono, tukang permak levis di halte mati Sunda Kelapa, Pademangan. Pelanggannya dari nelayan, bule, polisi, hingga Gilang Dirga. 

Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Y Gustaman
TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino
Casmono (38) memanfaatkan halte mati di dekat kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, Pademangan, Jakarta Utara, sebagai lapak jahitnya. Foto diambil pada Rabu (8/7/2020) malam. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, PADEMANGAN - Temaram lampu 7 watt memperlihatkan siluet otot-otot kedua lengannya yang tampak besar dan kokoh.

Duduk beralaskan bangku plastik dan muka tertutup masker kain, Casmono tampak luwes menjahit bahan jin dengan mesin jahit tua.

Mesin jahit yang bisa dibongkar pasang itu ia tempatkan di atas meja kayu yang sudah uzur.

"Ini sudah sering kena hujan sampai keropos begini," cerita Casmono kepada TribunJakarta.com pada Rabu (8/7/2020) malam.

"Sebenarnya sudah layak ganti tapi duit lagi susah, jadi untuk kebutuhan lain," sambung pria 38 tahun itu.

Sejak 2009, Casmono menggelar lapak jahitnya di halte bus yang sudah tak beroperasi.

Punggung Kena Tusuk, Kakek Pengojek Pemberani Ini Lawan Begal di Kalisari

Halte bus tersebut hanya selemparan batu dengan gerbang masuk Pelabuhan Sunda Kelapa, Jalan Krapu, Pademangan, Jakarta Utara.

Siapa menyangka, mesin jahit dan meja kayu seharga Rp 700 ribu itu menjadi saksi bisu Casmono untuk mempermak pakaian pelanggannya.

Seingat Casmono, pelanggannya banyak datang dari kalangan warga Pademangan sampai warga Marunda, bahkan ada juga bule.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved