Sisi Lain Metropolitan
Cerita Tukang Permak di Halte Mati Sunda Kelapa, Pelangganya Nelayan, Bule Hingga Gilang Dirga
Ini cerita Casmono, tukang permak levis di halte mati Sunda Kelapa, Pademangan. Pelanggannya dari nelayan, bule, polisi, hingga Gilang Dirga.
Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Y Gustaman
Kala itu, Gilang Dirga tengah menjalani syuting acara komedi televisi.

Casmono yang sedang di dalam kawasan Sunda Kelapa tiba-tiba dipanggil seseorang yang hendak menjahit celana robek.
Rupanya, orang itu tak lain Gilang Dirga. Saat itu sang aktor sedang syuting dan celananya robek.
"Tolong pak jahitin punya saya. Saya mau pake," ucap Gilang Dirga seperti ditirukan Casmono.
Pernah Jadi Penjahit Keliling
Sewaktu masih menjadi penjahit keliling, Casmono sering masuk keluar kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa untuk mencari pelanggan.
Di sanalah Casmono banyak mendapat langganan, terutama para nelayan yang menyandarkan perahu mereka di Pelabuhan Sunda Kelapa.
"Pelanggan saya ya paling banyak nelayan. Mereka motong celana, celana sobek buat kerja, ganti resleting gitu," cerita Casmono.
Pekerja lainnya yang biasa melintas di Jalan Krapu juga sering mempercayakan jasa Casmono untuk menjahitkan pakaian mereka.
Orang-orang dari Pademangan sampai Marunda pernah singgah di lapak dia.
• Cerita Pemulung di Gunung Sampah Bantargebang, Kadang Dapat Dolar Hingga Emas Batangan
Anggota polisi yang bertugas di Polsek Kawasan Sunda Kelapa pun mejahitkan pakaiannya kepada Casmono.
Casmono kerap kali dipanggil ke kantor polisi untuk sekadar menjahit celana anggota.
Lebih dari itu, turis asing pun kerap kali menjadi pelanggannya.
Terutama saat Casmono membuka usaha permak levisnya di halte di dekat Pelabuhan Sunda Kelapa.
Halte mati itu berada sejalur dengan jalanan yang biasa dilalui saat para turis saat hendak berwisata ke kawasan Sunda Kelapa.