Sisi Lain Metropolitan
Cerita Tukang Permak di Halte Mati Sunda Kelapa, Pelangganya Nelayan, Bule Hingga Gilang Dirga
Ini cerita Casmono, tukang permak levis di halte mati Sunda Kelapa, Pademangan. Pelanggannya dari nelayan, bule, polisi, hingga Gilang Dirga.
Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Y Gustaman
"Titiknya karena pelabuhan ini langganan saya semua," ucap Casmono.
"Saya nyetop di sini biar orang-orang dari pelabuhan enggak lari ke mana-mana dan masih nanya-nanyain saya, nyari saya," imbuh dia.
Punya banyak langganan, otomatis pendapatan Casmono terbilang cukup untuk menghidupi diri sendiri serta istri dan anaknya di kampung.
Sehari, Casmono bisa meraup pendapatan hingga Rp 300 ribu.
Apalagi jika bulan Ramadan tiba, dirinya bisa meraup hingga Rp 2,5 juta dalam satu malam saja.
• Kisah Nur Iyan, Mantan Sopir Angkot yang Koleksi 400 Judul Film Buat Layar Tancap
Semua itu berubah saat pandemi Covid-19 merebak di Indonesia sejak Maret 2020 lalu.
Lantaran ada pembatasan sosial berskala besar, kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi cukup sepi dari pengunjung.
Dampaknya, pendapatan Casmono ikut-ikutan menurun, utamanya dalam empat bulan belakangan.
"Sekarang Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu palingan satu malam," cerita Casmono.
"Bayangin aja, saya buat rokok sama makan enggak sampe."
"Terkadang kepala pusing, belum untuk kirim yang di rumah, anak-istri," ucap dia.
Halte bus tak terpakai itu sudah ia jadikan lapak permak levis sejak tahun 2009.
Sehari-harinya, pria kelahiran Pekalongan ini mulai membuka lapaknya sekitar pukul 17.00 WIB sampai kelar.
Ia berharap Covid-19 segera berlalu, agar kawasan Sunda Kelapa kembali ramai dan pelanggan kembali datang.
TONTON JUGA: