Breaking News:

Pilkada Kota Tangsel

Penyandang Disabilitas Beri Empat Evaluasi Terhadap Simulasi Pencoblosan Pilkada 2020 di Tangsel

Pusat Pemilihan Umum Akses (PPUA) Penyandang Cacat (Penca), komunitas disabilitas pemantau pemilu, memberikan empat evaluasi terhadap simulasi.

TribunJakarta.com/Jaisy Rahman Tohir
KPU RI menggelar simulasi pemungutan suara Pilkada 2020 dengan menerapkan protokol kesehatan di Lapangan PTPN Cilenggang, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), Sabtu (12/9/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, SERPONG - Pusat Pemilihan Umum Akses (PPUA) Penyandang Cacat (Penca), komunitas disabilitas pemantau pemilu, memberikan empat evaluasi terhadap simulasi pemungutan suara Pilkada 2020 yang digelar di Lapangan PTPN, Serpong, Tangerang Selatan ( Tangsel), Sabtu (12/9/2020).

Mahmud Fasa, Kepala Bidang Pendidikan Politik PPUA Penca, mengatakan, bagi penyandang tuna netra, sebaiknya diperbolehkan tidak menggunakan sarung tangan plastik.

Pasalnya, sarung tangan plastik yang dimaksudkan untuk menghindari sentuhan langsung, juga menghalangi kepekaan jari membaca huruf braile.

"Teman-teman tuna netra tidak usah menggunakan sarung tangan, karena dia tidak bisa membaca braile kan. Teman-teman tuna netra kan dibantukan menggunakan template huruf braile. Kalau dia menggunakan sarung tangan dia tidak akan bisa. Dia cukup menggunakan hand sanitizer," ujar Mahmud.

Terungkap Sosok L, Wanita yang Temani Ketua DPRD Lebak Sebelum Meninggal di Kamar Hotel di Tangsel

Baginya, cuci tangan dan memakai hand sanitizer sebelum memasuki TPS sudah cukup membuat tangan steril dari virus.

"Kan sudah pakai hand sanitizer, 10 menit di dalam, virus sama kuman mati lah," ujarnya.

Selain itu, sarung tangan plastik juga menyulitkan bagi pengguna kursi roda, karena tangannya menjadi licin saat memutar roda.

Dalam hal ini, Mahmud berharap ada petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) yang membantu para pengguna kursi roda.

8 Obat Tradisional untuk Atasi Sakit Gigi Berlubang, Cukup Pakai Bahan Dapur

"Kami meminta ke depan KPU meberikan bantuan kepada teman-teman kursi roda saat menggunakan sarung tangan, karena dia susah," ujarnya.

Sedangkan bagi pnyandang tuna rungu, Mahmud berharap petugas KPPS membuka maskernya saat berkomunikasi. Karena penyandang tuna rungu bisa memahami perkataan sesaorang melalui gerak bibir.

"Teman-teman tuna rungu juga meminta agar petugas membuka masker saat berkomunikasi. Karena dia kan berkomunikasi dengan gerak bibir sehingga petugas harus membuka masker saat manakala dia berkomunikasi dengan teman-teman tuna rungu," ujarnya.

Selain itu, Mahmud juga meminta KPU agar menulis nomenklatur pada daftar pemilih tetap (DPT) yang dipajang di depan TPS menggunakan kata non-disabilitas dan disabilitas.

Pencairan BLT Subsidi Gaji Karyawan Swasta Tahap III Molor, Menaker: Tahap I dan II Juga Belum Semua

Yang tertera pada saat simulasi adalah, normal dan disabilitas. Hal itu membuat Mahmud tersinggung.

"Saran kami yang berikutnya di DPT tidak menggunakan normal tapi non-disabilitas. Mas bisa lihat di DPT itu disabilitas berapa, normal berapa. Normal itu, berarti kan kita bukan normal. Makanya kami minta KPU itu istilahnya diubah, jadi berapa non-disabilitas, berapa disabilitas. Jadi bukan normal, disabilitas, itu kan enggak etis, enggak sesuai Undang-undang," ujarnya.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir
Editor: Suharno
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved