Sebut Target Pemasukan APBD 2021 Tak Realistis Tinggi di Masa Pandemi, DPRD: Jangan Menghayal

Pemprov DKI bersama DPRD DKI mulai membahas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2021.

Penulis: Dionisius Arya Bima Suci | Editor: Wahyu Aji
WARTA KOTA/henry lopulalan
ILUSTRASI Proses input hasil pembahasan Badan Anggaran DPRD DKI dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) ke dalam sistem e-budgeting di Balaikota, Jakarta Pusat, Kamis (19/3/2015). Input yang dilakukan berdasarkan hasil evaluasi dengan Badan Anggaran DPRD DKI kemarin atas hasil evaluasi dokumen APBD dari Kementerian Dalam Negeri. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Pemprov DKI bersama DPRD DKI mulai membahas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2021.

Dalam dokumen Kebijakan Umum Anggaran-Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA-PPAS) APBD 2021, Pemprov DKI mengusulkan pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp 48,1 triliun.

Usulan ini pun mendapat banyak kritik dari legislator Kebon Sirih, Jhonny Simanjuntak salah satunya.

Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD DKI itu menyebut, target pendapatan yang diusulkan Pemprov ini terlalu tinggi.

Pasalnya, Jakarta masih dilanda pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan berakhirnya.

"Terlalu optimistik bagi Pemprov DKI untuk bisa pendapatannya sampai Rp 48 triliun lebih. Ini situsi corona, itu tidak realistis," ucapnya, Kamis (5/11/2020).

Politisi PDIP ini mengatakan, target pendapatan yang diusulkan Pemprov DKI sama dengan yang dulu pernah diajukan di tahun 2017.

"Tahun 2017 kalau tidak salah tidak bisa tercapai jauh. Padahal, ekonomi saat itu masih bagus," ujarnya.

"Nah, apalagi sekarang dengan situasi corona. Memangnya gampang? Kalau begitu dari mana sumber pendapatannya?," sambungnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Wakil Ketua Badan Anggaran Mohamad Taufik.

Menurutnya, usulan yang diajukan oleh Pemprov ini dianggap tak realistis.

Pasalnya, kondisi perekonomian Jakarta di tengah pandemi Covid-19 ini jauh dari stabil dan sulit diprediksi.

"Perekonomian saat ini menjadi yang terendah selama kurun waktu 10 tahun terakhir. Kita harus realistis, jangan menghayal," tuturnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved