Pilkada Kota Tangsel

Cek Fakta: Klaim Rahayu Saraswati Ada Lebih 500 Kasus KDRT di Tangsel Sepanjang 2019? Ini Faktanya

Dari hasil penelusuran cek fakta, klaim Rahayu yang menyebut ada lebih dari 500 kasus  KDRT di Tangsel dalam 2019 adalah salah.

Tangkapan layar Kompas TV
Tiga pasangan calon di Pilkada Kota Tangsel mengikuti debat perdana di Kompas TV pada Minggu (22/11/2020) malam. Pilkada Kota Tangsel diikuti tiga pasangan, yakni nomor urut 1 Muhamad dan Rahayu Satraswati Djojohadikusumo, nomor urut 2 Siti Nur Azizah dan Ruhamaben, dan nomor urut 3 Benyamin Davnie dan Pilar Saga Ichsan. 

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG SELATAN - Calon Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) nomor urut 1 Rahayu Saraswati Djojohadikusumo mengklaim ada sebanyak lebih dari 500 kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Tangsel sepanjang 2019.

Hal tersebut disampaikannya saat debat Pilkada Tangsel yang disiarkan di salah satu televisi swasta pada Kamis (3/12/2020).

"Dengan adanya 500 kasus lebih kekersan dalam rumah tangga tahun lalu (2019) dan kita bisa bayangkan dengan adanya pandemi covid-19 tahun ini, Komnas Perempuan mengatakan kasus-kasus kekerasan dalam perempuan dan anak-anak terus meningkat," kata Rahayu saat debat Pilkada Tangsel.

Lantas apakah benar faktanya bahwa ada lebih dari 500 kasus KDRT di Tangsel dalam 2019?

Penelusuran Cek Fakta

Dari hasil penelusuran cek fakta, klaim Rahayu yang menyebut ada lebih dari 500 kasus  KDRT di Tangsel dalam 2019 adalah salah.

Faktanya, kasus KDRT di Tangsel tahun 2019 memang ada kenaikan dibanding tahun 2018.

Namun jumlahnya tak mencapai sebanyak 500 kasus.

Hal tersebut disampaikan Kapolres Tangsel, AKBP Ferdy Irawan, di Mapolres Tangsel, Jalan Raya Promoter, Serpong, Selasa (31/12/2019).

Ferdy memaparkan, kasus kekerasan terhadap perlindungan perempuan dan anak (PPA) pada tahun 2018 ada 172 kasus dan hanya mampu diungkap 34%-nya atau 58 kasus.

Baca juga: Pakar Komunikasi Politik: Tak Ada yang Menang di Debat Pilkada Tangsel

Baca juga: Lama Jadi Pejabat Tangsel, Muhamad Tak Sejalan dengan Kepemimpinan Airin-Benyamin

Pada tahun 2019, kasus terkait PPA melonjak menjadi 199 kasus, dan yang sudah terungkap 75 kasus atau 35%.

"Kemudian kejahatan terhadap anak dan perempuan, angkanya mengalami kenaikan, dari 172 menjadi 199 perkara," ujarnya.

Ferdy mengatakan, kasus PPA yang terbanyak adalah terkait dengan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

"Jadi PPA itu yang paling banyak dilaporkan adalah KDRT suami terhadap istri, itu yang paling banyak," ujarnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved