Virus Corona di Indonesia

Bolehkah Penderita Hipertensi Divaksin Covid-19? Berikut Penjelasan Dokter Spesialis

Perkumpulan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia  (PAPDI) memberikan rekomendasi bagi seseorang yang hipertensi agar boleh divaksin dengan syarat

Penulis: Pebby Ade Liana | Editor: Muhammad Zulfikar
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Perkumpulan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) memberikan rekomendasi bagi seseorang yang hipertensi agar boleh divaksin dengan syarat tensinya terkontrol. 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Vaksinasi Covid-19 memang sudah dimulai sejak Januari lalu di Indonesia.

Namun, pada kenyataannya tidak semua orang diperbolehkan menerima suntikan vaksin tersebut.

Lalu bagaimana dengan orang yang memiliki penyakit bawaan seperti hipertensi?

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Eka Hospital Pekanbaru,  Dr Hady, Sp.PD, menjelaskan tentang serba-serbi vaksinasi.

Secara umum, vaksinasi merupakan pemberian vaksin ke dalam tubuh untuk menciptakan kekebalan atau sistem imun terhadap penyakit tertentu.

Pemberian vaksin ditujukan, untuk menurunkan risiko terinfeksi dari penyakit tertentu.

"Namun jika seseorang terinfeksi penyakit setelah mendapatkan vaksin, diharapkan infeksi tersebut hanya berupa infeksi ringan saja. Tujuan ini berlaku untuk berbagai jenis vaksin, termasuk Flu dan Covid-19," kata dr Hady, dalam keterangan resmi Eka Hospital, Senin (8/2/2021).

Setidaknya, ada beberapa jenis efek samping yang bisa saja terjadi setelah pemberian vaksin.

Diantaranya seperti efek samping lokal yang ditimbulkan oleh komponen vaksin itu sendiri, juga efek samping akibat penyuntikan.

Namun menurut dr Hady, efek samping yang sering dijumpai pada kasus penyuntikan vaksin flu dan Covid-19, berupa pegal ringan akibat suntikan jarum yang masuk ke dalam otot.

Efek samping lainnya dapat berupa demam, flu atau meriang. Pada beberapa kasus, sempat juga ditemui efek ringan seperti rasa mengantuk setelah disuntik.

Namun menurutnya, penemuan ini hanya sedikit dan berlangsung sekitar 1-2 hari saja.

"Tidak sampai mengganggu aktivitas keseluruhan. Namun reaksi yang timbul pada masing- masing individu berbedan," imbuhnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved