Jeritan Pelaku Usaha di Setiabudi Pamulang, Omzet Anjlok Sampai Utang Akibat Proyek Perbaikan Jalan
Proyek Perbaikan Jalan Setiabudi, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel), berdampak pada sektor usaha di sekitarnya.
Penulis: Jaisy Rahman Tohir | Editor: Wahyu Septiana
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir
TRIBUNJAKARTA.COM, PAMULANG - Proyek Perbaikan Jalan Setiabudi, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel), berdampak pada sektor usaha di sekitarnya.
Di Jalan yang menghubungkan antara Bundaran Pamulang dan Simpang Gaplek itu banyak berdiri warung, kafe, baengkel, konter pulsa, konter ponsel hingga minimarket.
Proyek peninggian jalan yang digarap Pemerintah Provinsi Banten itu membuat akses jalan ke tempat-tempat usahanya tertutup.
Ada beda tinggi antara jalan dengan toko di sekitranya.
Selama lima bulan omzet para pengusaha di sekitar proyek anjlok.

Edward (43), pengusaha bengkel yang muka gerainya tertutup proyek perbaikan jalan, mengaku kehilangan mata pencaharian.
Bukan karena bengkelnya tutup, melainkan karena tidak ada pelanggan yang datang ke bengkelnya.
Baca juga: Jelang Ramadan, Satpol PP Jakarta Timur Petakan Lokasi Rawan PMKS
Baca juga: Vaksinasi Covid-19 di Kota Tangerang Tetap Dilaksanakan Siang Hari saat Ramadan
Baca juga: Pegawai KPK Mencuri Emas Seberat 1,9 Kilogram, Digadai untuk Bayar Utang
Bak sudah jatuh tertimpa tangga, usaha bengkel Edward yang sudah terpukul pandemi Covid-19.
Semakin terpuruk akibat ulah pemerintah yang tidak memperhatikan warganya.
"Ya sangat berdampak, sebenarnya kan sebelum pembangunannya juga sudah sangat berdampak akibat pandemi buat kita. Tapi setelah adanya seperti ini ya kita memang sama sekali ngga ada penghasilan sama sekali pak, makin parah, benar, enggak bisa, enggak ada penghasilan," kata Edward, Kamis (8/4/2021).
"Ya gimana mau masuk begini, mobil enggak bisa masuk ke bengkel, customer kita ngga bisa masuk sama sekali," tambahnya.
Edward mengatakan, sebelum adanya proyek perbaikan jalan itu, setidaknya 20 sampai 30 pengendara roda empat ataupun sepeda motor mampir ke bengkelnya dengan berbagai keluhan.
Namun apa daya, tanpa ada penjelasan apa lagi pemberian akses, bengkel Edward mendadak kosong-melompong tak ada lagi hilir mudik mobil dan motor langganannya.
"Kalau sehari biasanya ya rata-rata bisa 20-30 pelanggan lah ya, karena kita kan usaha ada yang nambal ban, ada yang nge-oli, ada yang servis. (Setelah pembangunan) enggak ada, gimana," ujarnya.