Ziarah Makam

Sosok Mbah Datuk Banjir, Ulama Pejuang Pencetus Nama Lubang Buaya

Siapa pencetus Lubang Buaya? Adalah sosok almarhum Mbah Datuk Banjir Pangeran Syarif Hidayatullah, seorang alim ulama besar. Ini kisahnya.

Tayang:
Penulis: Bima Putra | Editor: Wahyu Aji
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Makam Mbah Datuk Banjir Pangeran Syarif Hidayatullah di Cipayung, alim ulama pencetus nama Lubang Buaya, Jakarta Timur, Sabtu (17/4/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, CIPAYUNG - Kelurahan Lubang Buaya di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, dikenal sebagai lokasi tujuh Pahlawan Revolusi dibunuh pada 1965.

Jauh sebelum peristiwa berdarah itu, Lubang Buaya sudah ada dan digunakan sebagai nama lokasi yang berbatasan dengan Pondok Gede.

Adalah sosok almarhum Mbah Datuk Banjir Pangeran Syarif Hidayatullah pencetusnya.

Baca juga: Masjid Jami Attaqwa, Simbol Kota Santri Kampung Ujung Harapan Bekasi & Pusat Peradaban Ujung Malang

Dia seorang alim ulama sekaligus pejuang di masa penjajahan Belanda.

Yanto Wijoyo (45) adalah keturunan kesembilan Mbah Datuk Banjir.

Baca juga: Ini Sebagian Karomah Habib Kuncung di Rawajati: dari Kisah Kereta Api hingga Tukang Delman

Ia mengatakan pencetusan nama Lubang Buaya itu berawal saat leluhurnya melakukan perjalanan ke Jakarta pada abad 7.

"Menurut cerita kake knenek saya, sebelum sampai kemari melakukan perjalanan melalui rute Kali Sunter. Mengendarai kendaraan dari bambu, disebut getek kalau enggak salah," kata Yanto.

Makam Mbah Datuk Banjir Pangeran Syarif Hidayatullah di Cipayung, alim ulama pencetus nama Lubang Buaya, Jakarta Timur, Sabtu (17/4/2021). 
Makam Mbah Datuk Banjir Pangeran Syarif Hidayatullah di Cipayung, alim ulama pencetus nama Lubang Buaya, Jakarta Timur, Sabtu (17/4/2021).  (TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA)

Dalam perjalanannya itu, getek yang digunakan Mbah Datuk Banjir Pangeran Syarif Hidayatullah seolah tersedot ke lubang hingga menyentuh bagian dasar Kali Sunter.

Namun, Mbah Datuk Banjir tidak sampai terseret ke lubang, dia berhasil tiba di daratan.

Baca juga: Ngabuburit di Rumah Belanda Keluarga Achmad Soebardjo: Napak Tilas Bapak Pendiri Bangsa

Baca juga: Menengok Makam Keluarga Habib Ali Al Habsyi dan Wasiatnya di Masjid Jamiah Al-Riyadh

Baca juga: Pantangan Ziarah ke Makam Datuk Banjir, Aparat Dilarang Pakai Seragam

"Memang di Kali Sunter itu ada penguasanya zaman dulu. Ya selain buaya-buaya biasa ada penguasa gaib yang disebut siluman buaya putih," ujarnya.

Merujuk keterangan leluhurnya, buaya putih penguasa Kali Sunter tersebut dikisahkan bernama Pangeran Gagak Jakalumayung yang memiliki anak berjuluk Mpok Nok.

Mpok Nok berwujud buaya tanpa ekor atau disebut warga buaya buntung.

Baca juga: Kisah Masyhur Habib Kuncung yang Jenazahnya Sempat Tak Bisa Diangkat, Ini Alasannya

Mbah Datuk Banjir Pangeran Syarif Hidayatullah pun lalu berkelahi dengan keduanya.

"Mbah Datuk Banjir kan datang kemari sebagai pendatang. Masuk di kampung ini berhadapan dengan halangan-halangan daripada jin, penguasa Kali Sunter. Akhirnya bisa ditaklukkan dan akhirnya bisa dijadikan, bahasa kasarnya santrinya lah," tuturnya.

Keturunan kesembilan Mbah Datuk Banjir Pangeran Syarif Hidayatullah, Yanto Wijoyo (45) saat memberi keterangan di Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (17/4/2021)
Keturunan kesembilan Mbah Datuk Banjir Pangeran Syarif Hidayatullah, Yanto Wijoyo (45) saat memberi keterangan di Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (17/4/2021) (TRIBUNJAKARTA.COM/YUSUF BACHTIAR)
Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved