Breaking News:

Cerita Kriminal

UPDATE Siswi SMA Dirudapaksa Driver Taksi Online di Hotel, Karyawan Beri Pengakuan Berbeda

Kasus siswi SMA dirudapaksa driver taksi online di hotel melati kawasan Padang Bulan, Medan Tuntungan memasuki babak baru. Pengakuan karyawan hotel.

Penulis: Ferdinand Waskita Suryacahya | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Istimewa
Ilustrasi kekerasan seksual. Kasus siswi SMA dirudapaksa driver taksi online di hotel melati kawasan Padang Bulan, Medan Tuntungan memasuki babak baru. 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Kasus siswi SMA dirudapaksa driver taksi online di hotel melati kawasan Padang Bulan, Medan Tuntungan memasuki babak baru.

Penyidik Reskrim Polrestabes Medan telah menetapkan driver taksi online SA menjadi tersangka rudapaksa terhadap siswi SMA GTN (16).

Dalam kasus tersebut, karyawan hotel memberikan pengakuan berbeda mengenai adanya pemaksaan.

Dikutip dari Tribun Medan, dalam rekaman CCTV yang berasal dari karyawan hotel terlihat bahwa korban turun dari mobil Daihatsu Xenia dengan nomor polisi BK 1232 ABD dimana korban tidak dipaksa oleh pelaku.

Menurut room service, Herman yang mengantarkan keduanya ke kamar hotel dengan fasilitas kamar AC dan televisi menyebutkan saat itu korban dan pelaku sempat berbicara beberapa menit di depan hotel sebelum masuk ke kamar pada Jumat (18/6/2021) pukul 23.05.

Baca juga: Modus Polisi Rudapaksa Remaja di Polsek, Kunci Ruang Pemeriksaan dan Pisahkan Korban dari Temannya

Namun setelah setengah jam, tepat pukul 23.35 seorang pria yang diduga pelaku keluar dari mobil dan pulang keluar hotel mengendarai mobil tersebut.

"Memang benar ada pesanan kemarin itu, masuk 23:05 keluar 24:00. Laki-laki duluan keluar perempuan ditinggalkan," kata Herman.

Menanggapi kabar tersebut, pengacara keluarga korban, Oloan Butarbutar menegaskan bahwa dalam kamera CCTV mungkin tidak kelihatan adanya pemaksaan.

Baca juga: Jumat Kelam Siswi SMA, Niat Temui Teman Malah Jadi Korban Rudapaksa Driver Ojol di Hotel

"Emang tidak ada terlihat pemaksaan disitu ya, mungkin pada saat cctv tidak kelihatan ada pemaksaan bisa aja alibi atau bisa aja ngajak atau gimana," bebernya.

Ia mengungkapkan bahwa pemaksaan terjadi di dalam kamar dan bahkan anak kliennya mengalami pemukulan di kepala sebanyak 3 kali.

Ilustrasi Ojol.
Ilustrasi Ojol. (Tribunlampung.co.id/Dodik Kurniawan)
Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved