Virus Corona di Indonesia
Jangan Sampai Salah! Yuk Kenali Beda Gejala Virus Covid-19 dan DBD
Jangan lengah dengan penyakit demam berdarah dengue (DBD) di tengah pandemi Covid-19.
TRIBUNJAKARTA.COM - Jangan lengah dengan penyakit demam berdarah dengue (DBD) di tengah pandemi Covid-19.
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebarkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Ketika terinfeksi virus dengue yang dibawa oleh nyamuk tersebut, seseorang kemungkinan besar akan mengalami perjalanan demam naik-turun.
Perjalanan demam ini sering juga disebut sebagai Siklus Pelana Kuda.
Disebut demikian karena ketika digambarkan, laju perkembangan penyakitnya terlihat tinggi-rendah-tinggi yang mirip seperti alas duduk penunggang kuda.

Lantas bisakah seseorang mengidap demam berdarah dan covid-19 sekaligus?
Dikutip dari NCBI, seseorang bisa saja terkena demam berdarah dan covid-19 secara bersamaan.
Baca juga: Cek Syarat Vaksinasi Bagi Ibu Hamil dan Menyusui, Ini 3 Jenis Vaksin yang Diperbolehkan
Meski demikian, patut diingat jika demam berdarah dan COVID-19 sulit dibedakan karena memiliki fitur klinis dan laboratorium yang sama.
Para ilmuwan telah memperingatkan bahwa DBD dan COVID-19 memiliki gejala yang tumpang tindih.
Beberapa penulis bahkan menggambarkan kasus yang salah didiagnosis sebagai demam berdarah, di mana kemudian dikonfirmasi sebagai COVID-19.
Perlu diketahui, baik COVID-19 maupun demam berdarah memiliki gejala, seperti demam tinggi, sakit kepala, dan nyeri pada tubuh.
Baca juga: Cek Daftar Hotel dan RS di Jakarta Layani Isolasi Mandiri Covid-19, Ini Nomor Teleponnya
Namun, musim demam berdarah mungkin dapat memperburuk situasi COVID-19 karena kedua virus akan saling melengkapi.
Untuk itu, demam berdarah dan COVID-19 membutuhkan pengobatan simtomatik di mana dalam beberapa aspek pengobatannya agak kontradiktif dan rumit.
"Pada COVID-19, biasanya dokter akan menyuntikkan obat heparin secara subkutan yang pada akhirnya mencapai aliran darah," terang dr. Pitoyo Marbun, Medical Marketing Good Doctor, dilansir dari laman Good Doctor pada Sabtu (21/8).
Suntikan ini dilakukan untuk mencegah emboli pada pasien yang dapat berakibat fatal.