Detik-detik Kang Dedi Mulyadi Ajak Satpol PP Bernama Dedi Bersumpah, Jika Bohong Kena Hernia
Terungkap detik-detik Kang Dedi Mulyadi ajak anggota Satpol PP Kabupaten Purwakarta bernama Dedi bersumpah, jika bohong kena hernia.
Penulis: Elga H Putra | Editor: Yogi Jakarta
Agar kedoknya tak terbongkar, pengemis tadi berteriak sakit tetapi justru mukanya sambil ketawa.
Hal itu semakin membuat Kang Dedi yakin, pengemis itu pura-pura cacat.
"Aduh pak sakit, sakit," ucap wanita pengemis ketika tangannya dipegang Kang Dedi Mulyadi.
Setelah selendang dibuka, ternyata benar tangan kiri pengemis wanita itu normal.
Baca juga: Bocah SMP Kendarai Mobil Pick Up di Kaki Gunung, Tak Panik Ditanya Kang Dedi Soal Barang yang Dibawa
Tapi, sang pengemis tetap saja mengaku sakit dengan muka tak menunjukkan kesakitan apapun.
"Udah dikasih Allah tangan baik, pura-pura cacat. Emak (pedagang) yang kakinya lumpuh masih dagang ayam," ujar Kang Dedi Mulyadi membandingkan sang pengemis dengan lansia yang tetap berusaha dengan cara terhormat meski kakinya lumpuh.
Kedoknya terbongkar, sang pengemis wanita itu tak begitu saja mau mengaku.

Si wanita pengemis ini justru mengucapkan kata dosa tiap kali diomeli.
"Kamu yang dosa pura-pura cacat," tegur Kang Dedi Mulyadi.
"Iya pak saya yang dosa," jawab pengemis itu sambil tertawa lantaran malu kedoknya dibongkar.
Kang Dedi Mulyadi merasa risih dengan keberadaan pengemis pura-pura cacat semacam ini.
Menurutnya, si wanita lebih baik menjadi asisten rumah tangga daripada menjadi gelandangan dengan membohongi orang.
"Kenapa minta-minta, enggak usaha. Jadi pembantu apa kuli cuci. Sekarang cari ART gaji Rp 3 juta aja susah," kata Kang Dedi Mulyadi.
Pengemis itu kembali hanya tertawa sambil mengatakan dirinya mendapatkan uang Rp 50 ribu dalam sehari.
Baca juga: Aksi Dedi Mulyadi Review Sultan Ciririp, Kades Berpenghasilan Rp30 Juta Sehari yang Punya 2 Istri
Setelah wanita tadi mengakui dirinya pura-pura cacat untuk mengemis, Kang Dedi Mulyadi menanyakan identitasnya.
"Saya ada KTP pak," kata si wanita sambil memberikan KTP-nya.
Rupanya, KTP itu memunculkan masalah baru lantaran si wanita membayar Rp 500 ribu dari oknum petugas Satpol PP Kabupaten Purwakarta.