Magnet Lokalisasi Gunung Antang, Mencuat Lagi Saat Sugito Dihabisi Gegara Tolak Bayar Uang Kencan

Lokalisasi Gunung Antang memiliki magnet yang menjadi daya tarik bagi para pelanggan. Mencuat saat kasus pria dihabisi gegara tolak bayar uang kencan.

ISTIMEWA/Dokumentasi Polsek Jatinegara
Pria tanpa identitas ditemukan tergeletak bersimbah darah di kawasan Gunung Antang, Jakarta Timur, Rabu (18/9/2019). Lokalisasi Gunung Antang memiliki magnet yang menjadi daya tarik bagi para pelanggannya. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, MATRAMAN - Lokalisasi Gunung Antang memiliki magnet yang menjadi daya tarik bagi para pelanggannya.

Segala jenis hiburan di lokalisasi yang terletak di Kelurahan Palmeriam, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur membuat tempat itu masih beroperasi hingga saat ini.

Lokalisasi Gunung Antang mencuat kembali saat kasus pengeroyokan yang menewaskan Sugito (45) pada Minggu (17/10/2021) pagi.

Kasus tersebut dipicu aksi Sugito yang menolak membayar uang kencan setelah berhubungan badan dengan seorang perempuan Pekerja Seks Komersial (PSK).

Kasus pengeroyokan hingga tewas itu menambah riwayat kelam kawasan lokalisasi Gunung Antang.

Baca juga: Riwayat Gunung Antang Jadi Daya Tarik: dari Lokalisasi, Miras Hingga Judi Dadu Koprok

Sebanyak enam orang diduga mengeroyok Sugito dengan cara memukul, menusuk dengan pecahan botol, dan menikam dengan badik hingga jasad korban ditemukan di sekitar rel kereta api.

Ketua RW 09 Kelurahan Palmeriam, Sutrisno (66) mengatakan kawasan lokalisasi Gunung Antang yang jadi 'tempat hiburan' tersebut sudah berdiri dari sekitar tahun 1970.

Baca juga: Perkara Tak Mau Bayar Uang Kencan, Sugito Akhirnya Dihabisi di Gunung Antang

Hingga kini kawasan Gunung Antang beken jadi tempat lokalisasi di mana para PSK mejajakan diri dengan tarif beragam, dari Rp 50 ribu-Rp 200 ribu untuk sekali berhubungan badan.

"Dari tahun 1970-an sudah di situ. Relatif ya (tarifnya), ada yang Rp 200 ribu, Rp100 ribu, yang Rp 50 ribu. Ada (PSK) yang muda, tua," kata Sutrisno di Matraman, Jakarta Timur, Selasa (19/10/2021).

Menurutnya usia para PSK yang mejajakan diri di kawasan Gunung Antang berkisar 20-50 tahun.

Mereka berasal dari Jakarta, hingga kota penyangga Ibu Kota seperti Depok dan Bogor.

Petugas mengevakuasi jasad Sugito, diduga korban pengeroyokan, di lokalisasi Gunung Antang, Matraman, Jakarta Timur, Minggu (17/10/2021).
Petugas mengevakuasi jasad Sugito, diduga korban pengeroyokan, di lokalisasi Gunung Antang, Matraman, Jakarta Timur, Minggu (17/10/2021). (TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA)

Sepengetahuan Sutrisno, beberapa PSK datang ke Gunung Antang dengan diantar menggunakan sepeda motor sekira pukul 20.00 WIB, tepat saat kawasan Gunung Antang mulai beroperasi.

"Pendatang ada dari Citayam (Bogor), dari Depok, dari bongkaran Kalijodo (Jakarta Utara) juga ada, jadi sekitar jam 7 jam 8 (PSK) udah datang, ada yang bawa kendaraan motor," ujarnya.

Sutrisno menuturkan kawasan Gunung Antang tidak hanya menjajakan perempuan PSK, tapi juga jadi lokasi peredaran minuman keras hingga perjudian koprok.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved