Berkat Jumantik hingga Warga, Kasus DBD di Jaksel Turun dari 1.016 jadi 424 Kasus
Menurut Helmi, penurunan kasus DBD di Jakarta Selatan tak lepas dari peran aktif masyarakat dalam menjaga lingkungannya.
Penulis: Annas Furqon Hakim | Editor: Acos Abdul Qodir
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Annas Furqon Hakim
TRIBUNJAKARTA.COM, KEBAYORAN BARU - Kepala Suku Dinas Kesehatan (Kasudinkes) Jakarta Selatan, M Helmi, mengatakan kasus demam berdarah dengue (DBD) di wilayahnya sepanjang 2021 menurun lebih 50 persen dibandingkan tahun lalu.
Pada 2020, jumlah warga di Jaksel yang terjangkit DBD mencapai 1.016 kasus.
Sedangkan, kasus DBD mulai Januari sampai 10 November 2021 ini ada 424 kasus.
"Alhamdulillah, angka kasus DBD di Jakarta Selatan tahun 2021 mengalami penurunan secara signifikan dari tahun 2020. Adapun di bulan November ini, ada satu kasus DBD," kata Helmi dalam keterangannya, Sabtu (13/11/2021).
Baca juga: Kasus DBD di Kunciran, Temuan Jentik Nyamuk Bersarang di Ban Bekas yang Dijadikan Pot
Baca juga: DBD Menghantui di Tengah Pandemi Covid-19, Dinas Kesehatan Kota Bekasi: Kasus Kematian 10 Orang
Menurut Helmi, penurunan kasus DBD di Jakarta Selatan tak lepas dari peran aktif masyarakat dalam menjaga lingkungannya.
"Baik dari kader Juru Pemantau Jentik, PKK, dasa wisma dan seluruh warga masyarakat yang telah bersama-sama melakukan berbagai upaya dalam pencegahan penyakit DBD," ujar dia.

Sebelumnya, Wali Kota Jakarta Selatan Munjirin mengatakan, Sudinkes Jakarta Selatan tengah melacak warga yang terjangkit DBD.
Baca juga: Selain Covid-19, TBC dan Stunting Juga Menghantui Kota Tangerang
Nantinya, Pemkot Jakarta Selatan bakal melakukan upaya pencegahan dengan penyemprotan dan menggerakkan kembali juru pemantau jentik (jumantik).
"Sekarang sudah level 1 jadi sudah bisa door to door untuk aktif kembali. Kalau kemarin waktu masih level 3 atau 4 kan kita mengandalkan untuk jumantik mandiri," tutur Munjirin.