Santri Terpanggang Api saat Tragedi Maut di Pesantren, Keluarga: Semoga Almarhum Diterima di Sisinya
Tragedi maut di Pondok Pesantren Miftahul Khoirot di Karawang, menyisakan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.
Air mata menetes
Warga sekitar, M Gojali turut menyaksikan sisa-sisa amukan api yang melumat lantai dua pesantren.
Ia mengetahui peristiwa tragis itu dari grup Whatsapp.
Karena mengetahui bangunan yang terbakar itu pesantren dekat rumahnya, Gojali bergegas ke lokasi dari daerah Lamaran.

"Saya lihat di grup WA, saya langsung ke lokasi," kata Gojali kepada Tribun Jabar.
Gojali memang terbiasa menjadi relawan kemanusiaan.
Baca juga: Ponpes Miftahul Khoirot Karawang Kebakaran, 6 Santri Penghafal Quran Tak Tertolong
Setelah ke lokasi, api yang membakar kamar santri sudah padam, hanya tersisa puing-puing dan mayat santri yang belum dievakuasi.
Ia mengatakan, dirinya kemudian langsung ikut untuk melakukan evakuasi delapan mayat santri di dalam kamar.
Di dalam kamar santri itu, tiba-tiba dia menitikkan air mata.
Ia diliputi perasaan sedih ketika melihat kondisi santri yang terbakar di sana.
" Saya meneteskan air mata, saya melihat mereka seperti anak sendiri. Karena memang saya dekat juga dengan keluarga pesantren di sini," katanya.
Keluarga Korban
Suasana duka menyelimuti kediaman Satria di Kampung Hegarmanah, Desa Purwadadi Barat, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang.
Mewakili keluarga korban, Yayan Suryano mengungkapkan keluarga telah ikhlas atas musibah yang menerpa salah satu keluarga tersebut.
"Terimakasih atas doanya, jenazah tiba di rumah duka tadi Subuh, diantar dari RSUD Karawang," ucap Yayan di Subang, Selasa (22/2/2022).
