Sisi Lain Metropolitan

Pilu Keluarga Miskin di Jakarta Barat, Cuma Makan Nasi dan Garam Demi Bertahan Hidup

Kabar memilukan datang dari sebuah keluarga miskin di Tomang, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Mereka cuma makan nasi dan garam demi bertahan hidup.

TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas
Pasangan suami istri Suheri dan Susana hidup miskin di permukiman padat penduduk di kawasan Tomang, Grogol Petamburan, Jakarta Barat pada Jumat (16/9/2022). 

Semua barang ditumpuk seabrek-abrek di dalamnya.

Baca juga: Ratusan Warga Disabilitas Miskin di Kota Tangerang Dapat Bantuan Pangan Imbas Kenaikan Harga BBM

Baju terlihat berserakan, tempat tidur yang belum dirapikan, hingga dapur seadanya di dalam kamar itu.

Di dalam tempat tinggal sempit itu, mereka berenam tidur berdempetan di sana.

Suasana kamarnya pun terasa sumuk meski satu kipas angin butut memutar kencang.

Pasangan suami istri Suheri dan Susana hidup miskin di permukiman padat penduduk di kawasan Tomang, Grogol Petamburan, Jakarta Barat pada Jumat (16/9/2022).
Pasangan suami istri Suheri dan Susana hidup miskin di permukiman padat penduduk di kawasan Tomang, Grogol Petamburan, Jakarta Barat pada Jumat (16/9/2022). (TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas)

Suheri bercerita ia sudah bermukim di RT 005 RW 013 Tomang, Jakarta Barat sejak tahun 1973.

Sehari-harinya ia bekerja sebagai pemulung dan terkadang kerja serabutan.

Namun, Suheri mengaku selama hidup di dalam jurang kemiskinan, bantuan sesekali mampir ke rumahnya.

Meski, seringnya ia tidak mendapatkannya.

Baca juga: Temui Warga Miskin Menteng, Mensos Risma Titip Uang Rp 31 Juta untuk Renovasi Rumah

"Pemerintah juga belum pernah mendata ke rumah saya. Mungkin ada tetangga yang udah, tapi saya belum. Dari tahun 73 sampai sekarang saya belum pernah merasakan bantuan langsung tunai (blt)," cerita pria berambut gondrong itu kepada TribunJakarta.com pada Jumat (16/9/2022).

Ia mengakui memang pemerintah bukannya 100 persen tak mengulurkan bantuannya.

Salah satu anaknya menerima Kartu Jakarta Pintar (KJP).

Kendati demikian, dua anaknya terpaksa putus sekolah.

"Anak pertama usia 16 tahun dan anak kedua 14 tahun putus sekolah," katanya.

Suheri terpaksa meminta mereka tidak melanjutkan sekolah karena alasan penghasilan yang sangat kecil.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved