Cerita Kriminal

Anak Yatim Piatu di Cilincing Jadi Korban Rudapaksa 4 ABG, Ketua RW Ungkap Kondisi Tak Biasa Korban

Remaja 13 tahun korban rudapaksa empat anak berhadapan hukum (ABH) di Cilincing, Jakarta Utara masih mengalami trauma. Kondisinya dibocorkan Ketua RW.

TRIBUNJAKARTA.COM/GERALD LEONARDO AGUSTINO/Kolase Tribun Jakarta
Kolase foto anak dirudapaksa dan Ahmad Syarifudin, Ketua RW tempat tinggal bocah 13 tahun yang dirudapaksa di Cilincing, Jakarta Utara. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, CILINCING - Remaja 13 tahun korban rudapaksa empat anak berhadapan hukum (ABH) di Cilincing, Jakarta Utara masih mengalami trauma.

Setelah diperkosa keempat ABH tersebut, korban yang merupakan anak yatim piatu itu jadi pendiam dan masih sering menangis.

"Korban ini kayaknya trauma. Jadi kadang dia suka nangis, suka sedih," kata ketua RW tempat tinggal korban, Ahmad Syarifudin saat ditemui di lokasi, Senin (19/9/2022).

Menurut Syarifudin, pemerkosaan yang terjadi awal September lalu juga membuat korban menjadi semakin tertutup.

Korban sudah jarang terlihat keluar rumah kontrakan tempat selama ini dirinya tinggal bersama kakak.

Baca juga: Anak Yatim Piatu Korban Rudapaksa 4 ABG di Cilincing Dapat Pendampingan dari Berbagai Pihak

Senada, Hariyati yang merupakan pengurus wilayah tempat tinggal korban mengatakan, trauma berat yang dialami remaja 13 tahun itu tak bisa disembunyikan dari wajah belianya.

Beberapa kali Hariyati mengunjungi rumah korban untuk memeriksa keadaannya, tapi yang bersangkutan masih belum bisa buka mulut.

Ahmad Syarifudin, Ketua RW tempat tinggal bocah 13 tahun yang dirudapaksa di Cilincing, Jakarta Utara.
Ahmad Syarifudin, Ketua RW tempat tinggal bocah 13 tahun yang dirudapaksa di Cilincing, Jakarta Utara. (TRIBUNJAKARTA.COM/GERALD LEONARDO AGUSTINO)

"Sedikit banyak ada lah trauma yang membekas di hati dia. Kita juga ketemu dia enggak ngorek-ngorek untuk menceritakan soal kejadian ini. Kita cuman support aja kepada anak tersebut," ucap Hariyati.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara AKBP Febri Isman Jaya mengatakan, pendampingan dari komisi yang menangani anak-anak hingga lembaga bantuan hukum sudah dilakukan terhadap korban.

Pendampingan yang dilakukan sekaligus juga menekankan kepada trauma healing terhadap korban.

Pihak-pihak yang berperan sebagai pendamping berupaya memulihkan dan menjaga kondisi psikis korban tetap stabil.

"Ada pendamping dari Bapas, dari KPAI, dari P2TP2A dari LBH juga. Kalau trauma pasti namanya anak-anak, makanya nanti tetep dilakukan pendampingan psikologi," ucap Febri.

Baca juga: 3 Kata Langsung Diucapkan Said Usai Dituding Sebagai Hacker Bjorka, Terkuak Tindakan ABG Cirebon

Sebelumnya, dugaan kekerasan seksual yang dilakukan keempat ABH tersebut terjadi pada 1 September 2022.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved