Sisi Lain Metropolitan

Masa Kecil Kapolsek Tambora: Tak Mampu Beli Mie Instan, Baru Makan di Restoran Saat Masuk Akpol

Masa kecil hidup seorang Kapolsek Tambora di Jakarta Barat, Kompol Putra Pratama, dilalui dengan sulit.

Istimewa
Kapolsek Tambora, Kompol Putra Pratama saat diwawancarai Wartawan Wartakota di ruangannya pada Rabu (25/1/2023). 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Masa kecil hidup seorang Kapolsek Tambora di Jakarta Barat, Kompol Putra Pratama, dilalui dengan sulit.

Keluarga Putra serba pas-pasan karena hidup dalam jurang kemiskinan di Bangka Belitung.

Putra bercerita rumah masa kecilnya terbuat dari bedeng sederhana.

Ia tinggal bersama seorang adik, ibu dan ayahnya.

Dindingnya yang berbahan papan banyak yang sudah bolong.

Baca juga: Tak Kenal Kapok, Pria Pencuri Tabung Gas di Cengkareng Kembali Tertangkap di Tambora saat Imlek

Kondisi atapnya hanya terbuat dari seng yang sudah karatan.

Barangkali, kata Putra, usia rumah itu lebih tua dari usia sang ibu.

Ia tinggal di rumah itu sejak kecil hingga kelas 4 SD.

Baca juga: Polsek Tambora Ungkap Kasus Prostitusi Portal Semprot: 60 Wanita Dijajakan Online

Bahkan tak ada privasi di dalam bedeng itu.

"Jangankan berbicara, tetangga kita mengeluarkan kentut pun kita bisa mendengarnya," kata Putra seperti dilansir siaran langsung Wartakota.live pada Rabu (25/1/2023).

Pernah suatu ketika, Putra kecil mencium aroma sedap mie goreng.

Baca juga: 3 Pengedar Narkoba Ditangkap di Tambora Jakarta Barat, Polisi Sita Ratusan Gram Sabu Siap Edar

Rupanya, tetangga Putra itu sedang memasak mie goreng di samping bedengnya.

Aromanya yang kemana-mana menerbitkan rasa lapar.

Putra pun meminta dibikinkan makanan serupa kepada sang ibu.

Kapolsek Tambora, Kompol Putra Pratama bernyanyi diiringi pengamen di depan Mal Season City, Jembatan Besi, Jakarta Barat pada Sabtu (24/12/2022) saat malam Natal.
Kapolsek Tambora, Kompol Putra Pratama bernyanyi diiringi pengamen di depan Mal Season City, Jembatan Besi, Jakarta Barat pada Sabtu (24/12/2022) saat malam Natal. (Istimewa)

Sayangnya, keinginan itu tak diwujudkan oleh sang ibu karena keterbatasan uang.

"Sebagai anak yang masih kelas 2 SD atau kelas 3 SD saya lupa, saya minta ke ibu saya. Ibu, tolong lah beliin karena aromanya enak sekali. Ibu saya sampaikan bahwa tidak punya uang menunggu bapak pulang," ceritanya.

Baca juga: Penumpang Diserobot, 2 Sopir Bajaj di Tambora Adu Pukul hingga Bikin Gigi Rontok

Namun, ayah Putra yang bekerja sebagai tukang kayu di hutan hanya pulang tiga bulan sekali.

Itu pun membawa uang yang tidak banyak untuk keluarganya.

Kondisi itu yang membuat sang ibu turut bekerja sebagai pembersih gudang lada.

Baca juga: 4 Maling yang Keliaran di Tambora Tertangkap, 3 Motor Curian Disita Polisi

"Seminggu sekali ibu saya dapat uang, dari situ saya bertahan," tambahnya.

Pertama kali makan di restoran ketika jadi polisi

Putra mengenang pertama kali merasakan makan di restoran ketika masuk akademi polisi.

Baca juga: Kakek Tanpa Identitas Tergelatak di Pinggir Jalan Tambora, Bhabinkamtibmas Gerak Cepat Evakuasi

Sebelumnya, ia belum pernah sama sekali merasakan makan di sebuah restoran.

"Betapa nikmatnya kali pertama makan di restoran dan dibiayai teman seangkatan saya di Akpol. Saya ingat sekali saat itu makan di restoran Padang," lanjutnya.

Kini, restoran Padang itu menjadi tempat favoritnya untuk bernostalgia mengingat masa mudanya.

"Restoran itu punya kesan yang berarti karena pertama kali saya makan di restoran," pungkas lulusan akademi polisi tahun 2008 itu.

Baca artikel menarik lainnya TribunJakarta.com di Google News

 

 

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved