Penertiban Lokalisasi Gang Royal

Akhir Kisah Lokalisasi Gang Royal, Prostitusi Ramah Kantong yang Eksis Sejak Tahun 60-an

Setelah lebih dari 50 tahun eksis, sarang prostitusi itu kembali ditertibkan Pemprov DKI Jakarta pada Rabu (20/9/2023) kemarin.

|
Istimewa
Petugas Satpol PP dan lainnya melakukan pembongkaran 156 bangunan liar di kawasan Gang Royal, RW 13, Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (20/9/2023). Pembongkaran dilakukan karena melanggar peraturan daerah tentang ketertiban umum dan disinyalir jadi sarang prostitusi. 

Ia pun mengaku mengenal Gang Royal dari seniornya di kampus.

Suatu malam di tahun 2021 usai pesta miras, sang senior mengajak Barry untuk mencari wanita penghibur guna memuaskan nafsu birahnya yang sudah memuncak.

Barry awalnya mengaku tak tahu-menahu soal Gang Royal, kala itu sang senior hanya mengajaknya mengunjungi suatu tempat yang disebut ‘Royal GP’.

Belakangan, Barry baru mengetahui bawah ‘Royal GP’ itu merupakan sebutan untuk prostitusi Gang Royal yang berada di Jalan Gedong Panjang (GP), Penjaringan, Jakarta Utara.

“Awalnya ke sana diajak doang, nyebutnya waktu itu Royal GP, eh ternyata ketagihan. Kalau dihitung-hitung sepertinya sudah lima kali ke sana, atau mungkin lebih, sudah lupa,” ujarnya saat diwawancarai TribunJakarta.com, Sabtu (23/9/2023).

Ia pun mengaku terpana saat pertama kali mengunjungi Gang Royal itu.

Saat itu, ia hanya mengikuti seniornya yang mendatangi salah satu kafe remang-remang yang lokasinya berada di dalam sebuah gang sempit.

Sejak saat itu, kafe yang enggan disebut namanya menjadi langganan Barry.

“Memang kafe-kafenya semua di dalam gang itu. Nah, cewek-ceweknya ini berjejer nunggu di depan kafe,” tutunyra.

Setibanya di kafe itu, Barry dan seniornya itu langsung dihampiri oleh seorang mucikari.

Mucikari itu lantas mempersilakan keduanya untuk memilih PSK.

Barry pun terpana saat melihat paras cantik para PSK yang disuguhkan itu.

“Hitungannya murah, tapi cewek-ceweknya bagus,” tuturnya.

“Rp 150 ribu untuk satu kali main sama orang lama, kalau ada anak baru Rp 200 ribu,” katanya lagi.

Ia menyebut, para wanita tuna susila yang dijajakan di ratusan kafe ramang-remang Gang Rpyal beragam rupa.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved