Analisis Terbaru Roy Suryo Kecelakaan Tol Cikampek KM58, Kecepatan GranMax Sebelum-Sesudah Tabrakan

Roy Suryo berikan analisis terbaru kecepatan GranMax sebelum dan sesudah kecelakan Tol Cikampek KM 58 pada Senin (8/4/2024).

Tribun Jabar/Deanza Falevi
Kondisi mobil Gran Max yang terlibat kecelakaan maut di Tol Jakarta-Cikampek KM 58, Senin (8/4/2024). Roy Suryo berikan analisis terbaru kecepatan GranMax sebelum dan sesudah kecelakan Tol Cikampek KM 58 pada Senin (8/4/2024). 

Namun "kecepatan" ini sekali lagi sudah sangat tereduksi oleh kerasnya benturan di awal, sehingga diprediksikan sudah berkurang lebih dari 50 persen bahkan 75 persen kecepatan awalnya.

"Dengan kata lain, mesin sudah terbentur sangat keras saja Body GrandMax masih bisa "melaju" sejauh 4m/detik, maka berapa kecepatan awalnya?" imbuhnya.

Oleh karena itu, lanjut Roy, dalam kasus Laka di Km 58 Jalan Tol Cikampek kemarin memang sebenarnya kita memerlukan lagi Data Pembanding (bisa dari Rekaman lengkap Dash-Cam sebelumnya, kalau ada) juga analisis hasil Alat LIDAR melalui TAA.

Namun setidaknya disini sudah dapat diambil Hipotesis sementara bahwa terjadinya kecelakaan fatal tersebut (mulai dari saat benturan Pertama Minibus GrandMax dengan Bus Primajasa) adalah sangat singkat alias hanya tiga detik saja sampai kemudian Minibus sudah tetbakar dan tertinggal dibelakang Bus sepanjang 12 meter. Bisa diprediksikan berapa kencangnya kecepatan sebelumnya.

"Kesimpulannya, kalau Kakorlantas kemarin dalam berbagai statemennya menyampaikan bahwa kecepatan Minibus Daihatsu GrandMax ini diprediksikan diatas 100 Km/jam, memang hal itu sangat masuk akal dan bisa di logika," katanya.

Sebab, kata Roy, jika dikonversikan akan masuk perhitungan diatas, apalagi disebut-sebut di TKP tidak ada jejak pengereman yang sempat dilakukan sebelum benturan dengan Bus Primajasa terjadi.

"Dengan demikian pelajaran terpenting dari kasus ini sekalilagi adalah memang kita harus mempersiapkan kendaraan sebaik-baiknya dan kondisi tubuh pengemudi yang fit agar tidak ada resiko sekecil apapun yg bisa terjadi," imbuh Roy.

"Contra-Flow bisa saja dievaluasi, namun pertimbangkan juga jika selama ini manfaatnya jauh lebih besar dari mudharatnya, tentu hal tersebut jadi hal yg perlu diperbaiki dan disempurnakan, bukan kemudian malah ditanggalkan," tambahnya.

Dapatkan Informasi lain dari TribunJakarta.com via saluran Whatsapp di sini

Baca artikel menarik TribunJakarta.com lainnya di Google News

 

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved