Sisi Lain Megapolitan

Kisah di Balik Kecubung Amethyst, Batu yang Dahulunya Dipakai Para Raja dan Permaisuri

Para pedagang dan pecinta batu mulia yang tergabung di Asosiasi Kecubung Amethyst Indonesia (Akami) terus berupaya memperkenalkan batu Amethyst.

Tayang:
Penulis: Bima Putra | Editor: Satrio Sarwo Trengginas

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, JATINEGARA - Para pedagang dan pecinta batu mulia yang tergabung di Asosiasi Kecubung Amethyst Indonesia (Akami) terus berupaya memperkenalkan batu Amethyst.

Tidak hanya memperkenalkan batu Amethyst melalui Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur, Akami pun mengadakan kontes dalam rangka memperingati HUT ke-1 Akami.

Ketua Akami, Chaerullah mengatakan kontes yang diadakan di kawasan Cipinang Cempedak, Jatinegara pada Minggu (14/7) ini sebagai bagian memperkenalkan Amethyst ke publik.

Pasalnya secara umum banyak anggapan salah mengenai batu Amethyst, di antaranya menganggap Amethyst sebagai batu memiliki kekuatan memikat perempuan cantik.

Kemudian meningkatkan rezeki, keberuntungan, kekayaan, memiliki kekuatan menciptakan keluarga harmonis, meningkatkan karier bekerja, penglaris, hingga menenangkan hati seseorang.

Padahal menurut Chaerullah, anggapan itu mitos karena dahulunya Amethyst dikenal sebagai batu mulia dikenakan para raja dan permaisuri, serta keturunan para raja karena keindahannya.

"Sebenarnya bukan Amethystnya itu menarik atau memikat istri raja, tapi istri rajanya senang pakai batu warna ungu. Sebagai perhiasan para permaisuri raja," kata Chaerullah, Senin (15/7/2024).

Menurutnya pria yang merupakan pedagang Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur itu dahulunya Amethyst melekat pada mahkota, kalung, gelang, bros dan perhiasan lain.

Namun seiring waktu batu mulia Amethyst kini dapat dikenakan untuk semua kalangan, dan lebih terkenal karena depositnya lebih banyak dibandingkan batu permata lainnya di dunia.

Sehingga diharapkan melalui kontes yang diadakan masyarakat dapat semakin mengenal batu Amethyst, agar pamor batu mulia yang sempat terjadi beberapa tahun silam dapat kembali terulang.

"Dibilang Amethyst mahal dan murah, ya balik lagi dari kualitas batu Amethystnya. Harapannya ke depan lebih semarak lagi, paling tidak jangan sampai mati obor dunia perbatuan Amethyst ini," ujarnya.

Terkait kontes yang diikuti para peserta dari berbagai wilayah, Chaerullah menuturkan ada lima kelas diperlombakan meliputi purple, light purple, sarsaparilla, purpeliest dan blue purple.

Kelasnya terbagi menjadi empat kategori, ukuran baby small untuk ukuran 10-15 mili, small untuk ukuran 15,01 mili-18 mili, medium untuk ukuran 18,01 mili dan larger untuk ukuran 24 mili ke atas.

Penilaian batu dilakukan tiga juri utama dan dua juri administrasi, mereka melakukan penilaian batu para peserta untuk memperebutkan juara 1, 2 dan 3 serta juara King of Amethyst.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved