Selamat Jalan Sang Arsitek Peradaban: Mengenang Prof. KH. Amal Fathullah Zarkasyi

Langit Pondok Modern Darussalam Gontor meredup seiring berpulangnya sosok pendidik revolusioner, Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Wahyu Septiana
Dokumentasi Pondok Pesantren Bina Insan Mulia
PIMPINAN GONTOR WAFAT - Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli (kanan), berbincang dengan pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Amal Fathullah Zarkasyi (kiri) di sebuah forum. Kiai Amal wafat di Solo, Sabtu (3/1/2026) dan dimakamkan di pemakaman keluarga di area pondok pada Minggu (4/1/2026). 

Oleh KH Imam Jazuli Lc., MA (Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia)

TRIBUNJAKARTA.COM - Dunia pendidikan Islam Indonesia hari ini berduka hebat. Langit Pondok Modern Darussalam Gontor meredup seiring berpulangnya sosok pendidik revolusioner, Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi.

Almarhum bukan sekadar pengasuh; beliau adalah jembatan tradisi dan modernitas, Profesor pertama dari rahim keluarga besar Gontor yang mendedikasikan hidupnya untuk memastikan nilai-nilai kepesantrenan tetap relevan di puncak intelektualitas dunia.

Kontribusi beliau dalam membumikan nilai-nilai Gontor, yang bertumpu pada keikhlasan, kejujuran, dan kesederhanaan, telah mencetak ribuan generasi yang tersebar di seluruh penjuru negeri, mengabdikan diri untuk agama, bangsa, dan umat.

Sebagai profesor pertama dalam sejarah keluarga Gontor, beliau memadukan kedalaman ilmu agama dengan wawasan akademis modern, menghasilkan kurikulum pendidikan pesantren yang relevan, adaptif, dan berdaya saing global, namun tetap kokoh pada prinsip-prinsip dasar pesantren.

Salah satu misi terbesarnya adalah mendesiminasikan model pendidikan Gontor ke berbagai pesantren di Indonesia.

Beliau percaya bahwa metode Gontor adalah solusi untuk menciptakan generasi yang mandiri, berintegritas, dan siap memimpin.

Bagi almarhum, l "muamalah" atau interaksi dan penerapan kurikulum menjadi simpel, tidak rumit, karena didasari oleh niat tulus untuk kemajuan pendidikan Islam.

Kehilangan almarhum adalah kehilangan seorang nakhoda yang memandu arah pendidikan pesantren menuju masa depan yang visioner dan memiliki tekad yang tinggi;  bagaimana membumikan kurikulum Gontor agar menjadi ruh bagi pesantren-pesantren di seluruh pelosok negeri.

Di tangan almarhum, urusan muadalah (penyetaraan) menjadi sederhana, karena baginya, yang terpenting adalah penyebaran ilmu, bukan birokrasi yang membelenggu.

Kepergian almarhum meninggalkan luka yang mendalam bagi saya pribadi dan keluarga besar Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA).

Masih terekam jelas dalam ingatan saat beliau melangkahkan kaki bersilaturahmi ke BIMA. Kedatangannya bukan sekadar kunjungan formal, melainkan sebuah restu dari seorang ayah kepada anaknya.

Meskipun saya secara formal hanya mengenyam pendidikan di Gontor kurang dari satu bulan, ikatan batin saya dengan "Ibu Kandung" Gontor tak pernah putus. Kelima putra-putri saya pun saya titipkan di Gontor.

Di BIMA, detak jantung Gontor berdenyut kencang; dari 300 pengajar kami, 62 di antaranya adalah alumni Gontor.

Bahkan, nafas organisasi dan kegiatan ekstrakurikuler kami banyak terinspirasi dari disiplin Gontori.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved