Selamat Jalan Sang Arsitek Peradaban: Mengenang Prof. KH. Amal Fathullah Zarkasyi
Langit Pondok Modern Darussalam Gontor meredup seiring berpulangnya sosok pendidik revolusioner, Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi.
Sambil menatap lingkungan BIMA dengan pandangan visionernya, beliau berceletuk lembut namun penuh penekanan:
"Dari 5000an santri di BIMA, setidaknya buatlah satu kelas khusus, minimal 50 orang, yang menggunakan kurikulum Gontor secara murni."
Itu bukan sekadar saran, itu adalah amanah.
Beliau ingin Gontor tidak hanya menjadi menara gading di Ponorogo, tetapi menjadi benih yang tumbuh subur di ladang-ladang pendidikan lain, termasuk di Bina Insan Mulia.
Di depan ribuan santri BIMA, beliau berdiri dengan wibawa seorang Profesor namun dengan kerendahan hati seorang santri.
Beliau menitipkan tiga pilar yang kini menjadi jimat bagi kami: Keikhlasan, Kejujuran, dan Kesederhanaan.
Beliau memberikan gambaran yang begitu indah tentang bagaimana seharusnya seorang alumni Gontor berbakti.
Beliau ingin setiap alumni Gontor satu visi dengan perjuangan di BIMA, karena bagi beliau, di mana pun kurikulum Gontor diterapkan, di sanalah panji-panji Trimurti dikibarkan.
Kini, sosok yang mempermudah jalan dakwah dan pendidikan itu telah kembali ke haribaan-Nya.
Gontor kehilangan pilar utamanya, dan kami di Bina Insan Mulia kehilangan mentor yang selalu menyemangati untuk terus bergerak maju.
Selamat jalan, Kiai Amal.
Wasiatmu tentang "Kelas Gontor" di BIMA akan kami jaga sebagai komitmen cinta kami kepada nilai-nilai yang engkau tanamkan.
Engkau telah tuntas menunaikan tugas, meninggalkan warisan intelektual dan spiritual yang takkan lekang oleh waktu.
Semoga Allah SWT menempatkan beliau di tempat termulia di sisi-Nya, berkumpul bersama para mujahid pendidikan. Amin.
Baca berita TribunJakarta.com lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/KH-Imam-Jazuli-kanan-KH-Amal-Fathullah-Zarkasyi-kanan.jpg)