Menag Nasruddin Umar: Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar, tapi Mendekatkan Hati kepada Tuhan

Internalisasi sifat-sifat Tuhan ke dalam diri merupakan perjalanan spiritual anak manusia untuk mendekati Tuhannya.

Tayang:
Editor: Wahyu Septiana
TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino
PESAN RAMADAN - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan pesan. Internalisasi sifat-sifat Tuhan ke dalam diri merupakan perjalanan spiritual anak manusia untuk mendekati Tuhannya. 

Belajar dari Sifat-sifat Tuhan

Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar       

TRIBUNJAKARTA.COM - Salahsatu hikmah dalam berpuasa ialah mencontoh dan meneladani sifat-sifat Tuhan.

Nabi pernah bersabda: “Takhallaqu bi akhlaqillah” (berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah SWT). Alquran menyebutkan “huwa yuth’im wa la yuth’am” (Tuhan memberi makan dan tidak diberi makan) (Q.S.6:14) dan “lam takun lahu shahibah” (Tuhan tidak memiliki pasangan) (Q.S.6:101). 

Internalisasi sifat-sifat Tuhan ke dalam diri merupakan perjalanan spiritual anak manusia untuk mendekati Tuhannya.

Semakin dekat jarak seorang hamba dengan Tuhannya semakin mulia hamba itu.

Di dalam berpuasa kita tidak boleh makan, minum, dan berhubungan seks, sebaliknya kita diwajibkan berzakat fitrah, yaitu memberi makan kepada orang yang butuh.

Harapan terakhir kita dengan menjalankan ibadah puasa agar kita mencapai kualitas muttaqin (orang-orang taqwa), suatu kualitas spiritual yang paling mulia dan didambakan setiap orang, sebagaimana dijelaskan dalam ayat:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Q.S. al-Baqarah/2:183).

Kata muttaqun (orang-orang bertaqwa) dalam ayat di atas sesungguhnya tidak lain adalah mengombinasikan sikap cinta, takut, dan segan kepada Allah SWT.

Muttaqin tidak tepat diartikan takut kepada Allah SWT, karena Allah SWT sebagaimana diperkenalkan kepada kita melalui al-asma' al-husnya-Nya, bukan sosok Maha Mengerikan untuk ditakuti,  tetapi lebih menonjol sebagai Tuhan Maha Pencinta dan Maha Penyayang.

Apalagi terhadap manusia yang Allah ciptakan dengan cinta.

Manusia satu-satunya yang ditegaskan diciptakan dengan kedua tangan-Nya: Allah berfirman: 

"Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?". (Q.S. Shad/38:75).

Seluruh makhluk lain termasuk malaikat tidak ada penegasan seperti ini. Seolah-olah manusia adalah ciptaan langsung (hand made) Allah SWT. 

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved