Menag Nasruddin Umar: Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar, tapi Mendekatkan Hati kepada Tuhan
Internalisasi sifat-sifat Tuhan ke dalam diri merupakan perjalanan spiritual anak manusia untuk mendekati Tuhannya.
Makna “kedua tangan Tuhan” di bahas Panjang lebar dalam kitab-kitab tafsir dan kitab-kitab tasawuf, yang intinya Tuhan memiliki “dua tangan” dalam arti kekuatan maskulin (jalaliyyah) dan kekuatan feminine (jamaliyyah).
Kedua “Tangan Tuhan” digambarkan di dalam nama-nama indah-Nya yang dikenal dengan al-Asma’ al-Husna.
Internalisasi nama-nama dan sifat-sifat Tuhan ke dalam diri kita seperti dicontohkan oleh pribadi Rasulullah SAW sangat penting.
Dalam perspektif tasawuf, al-asma’ al-husna tidak hanya menunjukkan sifat-sifat Allah SWT, tetapi juga menjadi titik masuk (entry point) untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Setiap orang dapat mengakses dan mengidentifikasikan diri dengan nama-nama tersebut.
Seseorang yang pernah berlumuran dosa lalu sadar, dapat menghibur diri dan membangun rasa percaya diri dengan mengidentifikasi diri dengan nama al-Gafur (Maha Pengampun) dan al-Tawwab (Maha Penerima Taubat), sehingga orang tetap mempunyai harapan dan tidak perlu kehilangan semangat hidup.
Bukankah di antara 99 nama itu sifat-sifat kasih Tuhan lebih dominan? Bukankah pada setiap surah dalam Alquran selalu diawali dengan Bismillah al-rahman al-rahim, yang intinya menonjolkan kemahapengasihan (rahmaniyyah) dan kemahapenyayangan (rahimiyyah) Tuhan?
Salah satu bentuk kemahapengasihan Tuhan ialah menganugrahkan bulan Ramadan (secara harfiyah: penghancur, penghangus).
Setelah 11 bulan hambanya terasing di dalam kehidupan yang kering dan penuh dengan suasana pertarungan (power struggle), maka dalam bulan Ramadlan ini kita diajak untuk kembali ke kampung halaman rohani, yang basah dan menyejukkan, serta penuh dengan suasana lembut (nurturing).
Bulan puasa ibarat oases yang siap memberi kepuasan spiritual kepada orang yang menjalaninya dengan ikhlas dan sepenuh hati.
Agak aneh memang, Tuhan yang sedemikian lembut menampilkan diri-Nya, ayat-ayat Alquran sedemikian santun menyapa anak manusia, dan Nabi Muhammad Saw tampil sedemikian menawan, lebih menojolkan sikap-sikap kelembutan dan kesantunan, tetapi umat Islam sebagian bertentangan perilakunya dengan sifat-sifat yang dilakukan Nabi dan Tuhan.
Islam tidak pernah menolerir pemeluknya melakukan tindakan kekerasan, bukan kepentingan diplomasi tetapi kekerasan itu sendiri tidak sejalan dengan sifat-sifat utama Tuhan, sebagaimana diperkenalkan dalam al-asma' al-husna'-Nya.
Berita Terkait
Baca juga: Momentum Ramadan, DPRD DKI Dorong UMKM dan Sektor Usaha Perkuat Ekonomi Jakarta
Baca juga: Pesan Ramadan Hari ke-11: Menag Nasaruddin Umar Ingatkan Pentingnya Persahabatan Spiritual
Baca juga: Pesan Ramadan Menag Nasaruddin Umar: Jauhi Ujaran Kebencian, Ancaman bagi Persatuan Bangsa
Baca berita TribunJakarta.com lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/Nasaruddin-Umar-menyampaikan-pesan-penting-dalam-perayaan-Natal-bertajuk.jpg)