Guru Bambang Dikenang Banyak Orang, Meninggal saat Antarkan Uang Saku untuk Anak
Bambang Pudi Astomo yang paling Misbach Hilal Afif tunggu-tunggu tak juga datang sampai jam satu siang. Tiga jam kemudian datang kabar, ayahnya tewas.
Penulis: Y Gustaman | Editor: Y Gustaman
TRIBUNJAKARTA.COM, PALEMBANG - Bambang Pudi Astomo yang paling Misbach Hilal Afif tunggu-tunggu tak kunjung datang juga, jam sudah pukul 13.00 WIB.
Misbach Hilal mencoba menelepon ayahnya itu pada Selasa (3/9/2019), tapi tak kunjung diangkat.
"Saya coba hubungi, tapi papa tidak angkat," kata Misbach Hilal.
Sejak kuliah di Jurusan Kimia Fakultas MIPA UNSRI, Misbach Hilal acap dikunjungi ayah atau ibunya.
Mereka bergantian berkunjung untuk mengantarkan uang saku atau kebutuhan lainnya untuk si bungsu.
Tak tentu waktunya, pernah seminggu sekali, kadang beberapa hari sekali.
Beberapa jam setelah telepon tak diangkat, saat mengerjakan tugas di asrama, Misbach Hilal dijemput ibunya.
Mereka menuju Puskesmas Indralaya dan tiba pukul 16.00 WIB.
"Di situ saya lihat papa dimasukkan ke mobil ambulans," kenang Misbach Hilal saat diwawancarai Tribun Sumsel di rumah duka, Jalan KH Balqi Banten IV gang rukun Palembang, Rabu (4/9/2019).
Bambang meninggal dalam kecelakaan di jalan lintas Indralaya-Palembang.
Tepatnya di depan GT KTM Rambutan Palindra sekira pukul 16.00 WIB.
Pesan berulang ayahnya masih terngiang terus di telinga Misbach Hilal: semangat dan rajin belajar.
Sementara saat masih di Puskesmas Indralaya, Sri tak bisa menguasai emosinya melihat jenazah sang suami.
Seketika ia menangis tersedu sambil merangkul anaknya dan meminta jenazah suaminya ditutup.
"Saya tidak kuat melihat jenazahnya dalam keadaan seperti itu," ujar Sri.
