Guru Bambang Dikenang Banyak Orang, Meninggal saat Antarkan Uang Saku untuk Anak
Bambang Pudi Astomo yang paling Misbach Hilal Afif tunggu-tunggu tak juga datang sampai jam satu siang. Tiga jam kemudian datang kabar, ayahnya tewas.
Penulis: Y Gustaman | Editor: Y Gustaman
Sudah sering Sri melarang Bambang pergi ke Indralaya mengendarai sepeda motor.
Tak sekali dua ia menyarankan Bambang untuk naik angkutan kota atau travel.
Permintaan Sri selalu Bambang tolak, alasannya terlalu lama menunggu travel atau angkot yang lewat.
Cerita Kematian ke Sesama Guru
Beberapa pekan sebelumnya, Bambang bercerita soal kematian rekannya yang kecelakaan di Tol Indralaya.
"Kata dia, temannya itu patah juga," ungkap Kepala SMP Negeri 35 Palembang Eny Fadilah di rumah duka, Jalan KH Balqi Banten IV, Gang Rukun, Palembang, Rabu (4/9/2019).

Guru mata pelajara IPA Fisika itu terluka parah: kaki kiri putus, pergelangan kaki kanan dan kepala robek.
"Kecelakaan itu sama seperti yang terjadi ke Pak Bambang. Itulah yang buat kami sangat syok," sambung Eny.
Beberapa hari ini Eny dan sejumlah guru menangkap hal tak biasa dari Bambang.
"Biasanya mengarahkan murid untuk bersih-bersih. Tapi beberapa hari ini langsung turun tangan sendiri," terang Endy.
Neyza Azzahra, siswa kelas VIII, sempat menyalami Bambang beberapa jam sebelum meninggal.
Bambang yang suka bercanda dengan murid-muridnya lebih banyak diam, raut wajahnya sedikit pucat.
"Pak Bambang lebih diam, tak seperti biasanya suka bercanda. Wajahnya juga terlihat pucat," ujar Neyza.
Kematian Bambang mengejutkan guru-guru, termasuk Neyza dan murid-murid lainnya.
"Sempat syok juga, rasanya tidak percaya. Kemarin masih bertemu di sekolah," kata Neyza.