Polemik Pembangunan Hotel di TIM

Pembangunan Hotel di TIM Tak Direstui, DPRD Pangkas Anggaran Jakpro Rp 400 M

DPRD DKI Jakarta kembali melanjutkan proses pembahasan APBD 2020 dalam rapat Badan Anggaran (Banggar).

Pembangunan Hotel di TIM Tak Direstui, DPRD Pangkas Anggaran Jakpro Rp 400 M
TribunJakarta.com/Dionisius Arya Bima Suci
Suasana di ruang rapat Banggar DPRD DKI Jakarta, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (27/11/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - DPRD DKI Jakarta kembali melanjutkan proses pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2020 dalam rapat Badan Anggaran (Banggar).

Dalam pembahasan kali ini, anggota dewan bersama dengan eksekutif membahas dana penyertaan modal daerah (PMD) untuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Suasana lahan yang akan dijadikan hotel di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (25/11/2019).
Suasana lahan yang akan dijadikan hotel di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (25/11/2019). (TRIBUNJAKARTA.COM/MUHAMMAD RIZKI HIDAYAT)

Rapat yang berlangsung di ruang rapat paripurna, Lantai 3 DPRD DKI, Kebon Sirih, Jakarta Pusat ini berlangsung alot.

Para anggota dewan pun mempertanyakan pembangunan hotel bintang lima di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) yang dilalukan oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro).

Mereka pun menyarankan PT Jakpro untuk membatalkan pembangunan hotel bintang lima atau yang disebut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai wisma.

"Mau namanya apa terserah, pokoknya ada tempat menginap yang saya kira itu kurang menarik bagi masyarakat. Sudah enggak usah ada hotel di situ," ucap Wakil Ketua DPRD DKI dari Fraksi Gerindra Mohammad Taufik dalam rapat, Rabu (27/11/2019).

Senada, Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Gembong Warsono pun meminta PT Jakpro dan Pemprov untuk membatalkan pembangunan hotel itu.

Menurutnya, orientasi TIM sebagai kawasan pusat budaya bisa rusak akibat pembangunan hotel tersebut.

"Kita harus kembalikan marwah TIM sebagai pusat budaya, maka hal-hal yang berbau bisnis harus disingkirkan," ujarnya.

Halaman
1234
Penulis: Dionisius Arya Bima Suci
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved