Kaleidoskop Jabodetabek 2020
Kaleidoskop 2020, Petaka Banjir 1 Januari yang Tewaskan 5 Warga Jakarta Timur
Kelima korban memang tak seluruhnya meninggal karena tenggelam dan terseret arus, di antaranya ada yang tersengat aliran listrik saat mengungsi.
Penulis: Bima Putra | Editor: Erik Sinaga
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra
TRIBUNJAKARTA.COM, JATINEGARA - Jargon sarkastik 'banjir sudah biasa' yang kerap dilontarkan warga tidak berlaku pada 1 Januari 2020 silam saat Jakarta dikepung banjir besar.
Dini hari usai perayaan pergantian tahun, warga Jakarta Timur yang bermukim di bantaran Kali Ciliwung, Kali Cipinang, dan Kali Sunter dibuat kelabakan.
Sebelum matahari terbit mereka dipaksa mengungsi akibat banjir dengan ketinggian berkisar dua meter sudah menjamah permukimannya.
Juki (34), warga RW 04 Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar korban banjir luapan Kali Sunter merupakan satu warga di antaranya.
"Jam 4 lewat warga sudah mulai mengungsi, karena tinggi air sudah sekitar 2 meter. Kalau tinggi air sampai 4 meter itu sekira pukul 07.00 WIB," kata Juki, di Jakarta Timur, Rabu (1/1/2020).
Nasibnya sedikit mujur karena kala itu tak semua warga RW 04 berhasil mengungsi tepat waktu, banyak warga yang terjebak di rumahnya hingga berjam-jam.
Pasangan suami istri Muhammad Ali (82) dan Nawa (76) di antaranya, mereka baru berhasil dievakuasi dari lantai dua rumahnya sekira pukul 16.00 WIB.
Nahas saat berhasil dievakuasi petugas gabungan, Ketua RW 04 Kelurahan Cipinang Melayu, Irwan Kurniadi menuturkan hanya Ali berhasil selamat.
"Istrinya meninggal, untuk suaminya dalam kondisi kritis. Istrinya meninggal karena terjebak di rumahnya saat banjir, jadi kelelep di air," ujar Irwan.
Personel gabungan dari TNI-Polri, Damkar, Satpol PP, hingga relawan sejak pagi hari sudah berjibaku melakukan evakuasi warga terdampak banjir.
Namun tinggi air, kondisi permukiman warga yang berupa gang membuat arus sulit ditembus, bahkan bagi petugas yang memiliki bekal kemampuan evakuasi.
Kendala evakuasi juga karena keterbatasan personel, mengingat Jakarta Timur merupakan kota paling luas dan padat penduduk di Provinsi DKI Jakarta.
Hingga pukul 07.43 WIB pada 1 Januari 2020, Sudin Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Timur bahkan menerima 17 permintaan evakuasi.
"Permintaan evakuasi dari warga Kecamatan Makasar, Kecamatan Ciracas, Kecamatan Cakung, Kecamatan Cipayung, Kecamatan Pulogadung, Kecamatan Matraman," kata Kasi Ops Damkar Jakarta Timur, Gatot Sulaeman.
Sejak pagi hingga malam personel gabungan pontang-panting melalukan evakuasi warga terdampak banjir yang tersebar di Jakarta Timur.
Hanya saja korban jiwa akibat banjir tak sepenuhnya berhasil dicegah karena keterbatasan personel, kondisi lapangan, dan lain hal yang menyulitkan.
AKBP Hery Purnomo yang saat kejadian menjabat Kasat Reskrim Polrestro Jakarta Timur menyebut lima warga Jakarta Timur tewas saat banjir 1 Januari 2020.
Kelima korban memang tak seluruhnya meninggal karena tenggelam dan terseret arus, di antaranya ada yang tersengat aliran listrik saat mengungsi.
"Lima yang meninggal ini kejadiannya di bawah pukul 18.00 WIB semua. Sejauh ini data yang kita terima ada lima warga Jakarta Timur yang meninggal saat banjir," tutur Hery, Kamis (2/1/2020).
Baca juga: Truk Bermuatan Batu Terguling di Tambun, Pemotor Anggota TNI Tewas Tertimpa
Baca juga: Kaleidoskop 2020: Akhir Penantian Anies Setelah 2 Tahun Menjomblo Usai Ditinggal Sandi Uno Nyapres
Baca juga: Kaleidoskop 2020, Kota Depok Banjir dan Tanah Longsor Hingga Renggut 4 Nyawa
Pemkot Jakarta Timur sendiri mencatat dari 10 Kecamatan hanya satu yang bebas dari pengungsi akibat banjir, yakni Kecamatan Pasar Rebo.
Banyaknya warga Jakarta Timur yang jadi korban banjir membuat penganan sulit, keluhan terkait penanganan dilayangkan ke Pemprov DKI dan pemerintah pusat.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun yang sejak pagi hingga malam memantau penanganan banjir pun tak luput jadi pelampiasan emosi warga.
Saat memantau banjir di Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu pada Rabu malam Anies mendapat protes langsung dari seorang warga bernama Syarif.
Kepada Anies, dia menyampaikan keluhan karena evakuasi warga RW 03 yang direncanakan sejak pukul 18.00 WIB urung terlaksana hingga 20.06 WIB.
"Pak ini saya evakuasi warga tapi enggak bisa karena listrik belum mati. Sampai sekarang listrik masih menyala, takutnya kesetrum," keluh Syarif kepada Anies.
Menanggapi keluhan, Anies memanggil Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang kala itu dijabat Subejo meminta masalah segera diselesaikan.
Tak sampai hitungan 5 menit, listrik di permukiman RW 03 Kampung Pulo korban banjir luapan Kali Ciliwung seketika padam sesuai permintaan warga.
"Sudah ya pak, saya mau evakuasi warga yang kebanjiran dulu," tutur Syarif sembari berlalu meninggalkan Anies yang masih bertahan memantau penanganan banjir.
Buruknya penanganan juga dikeluhkan warga Kampung Arus, RW 02, Kelurahan Cawang, Kecamatan Kramat Jati korban banjir luapan Kali Ciliwung.
Alex (38), warga setempat mempertanyakan penanganan banjir yang dilakukan pemerintah karena sejak Januari-Februari 2020 tak mendapat bantuan.
"Saya berenang ke minimarket di Jalan Dewi Sartika, beli persediaan makanan sama susu. Karena memang enggak ada bantuan sama sekali," tutur Alex, Minggu (1/3/2020).
Pamor Kampung Arus yang sebagai satu wilayah rawan banjir di Jakarta yang dulunya membuat sejumlah pejabat datang memberi bantuan kini luntur.
Jangankan bantuan logistik, selama dua bulan nyaris tanpa henti terdampak banjir luapan Kali Ciliwung bantuan tenaga membersihkan lumpur pun tak ada.
"Enggak ada, dari Kelurahan juga enggak ada bantuan bersih-bersih. Habis banjir tanggal 1 Januari lalu kita bersih-bersih sendiri," lanjut dia.
Perihal kerugian akibat banjir pada 1 Januari 2020 silam, warga RW 05, Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati termasuk yang merasakan.
Derasnya arus Kali Ciliwung yang saat kejadian mencapai tinggi sekitar empat meter membuat dua rumah warga roboh dan lainnya rusak diterjang arus.
"Rumah yang ambruk itu juga baru diperbaiki pas banjir awal tahun 2018. Tapi baru sampai ambruk seperti ini ya baru sekarang. Tahun lalu atap rumah warga yang terseret," tutur satu warga setempat, Suratmin (59).
Pada akhir tahun 2020 Pemprov DKI Jakarta dan pemerintah pusat memang sudah berbenah mencegah banjir besar kembali terulang.
Di antaranya lewat melanjutkan proyek normalisasi Kali Sunter yang terhenti sejak tahun 2014, pembuatan waduk, dan sejumlah sumur resapan.
Namun masalah belum selesai, normalisasi dan pembuatan sodetan Kali Ciliwung yang merupakan proyek kerja sama Pemprov DKI dan pemerintah pusat hingga kini belum berjalan.
Sementara warga hanya bisa berharap petaka banjir sebagaimana terjadi di awal tahun 2020 yang merenggut korban jiwa hingga mengakibatkan kerugian materil tak lagi terulang.