Kelakuan Turis Asing Berkantong Tipis Menginap di Hostel Jalan Jaksa: Berendam di Bak Mandi
Para turis tersebut langsung berendam di bak mandi. Mereka mengira itu adalah bathtub
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Erik Sinaga
"Lokasinya juga mendukung buat mereka," tambahnya.
Sarapan roti panggang dan scrambeld egg
Keluarga Boy juga menyuguhkan sarapan bagi turis asing yang menginap di Wisma Delima.
Menu yang biasa dimasak di kala pagi hari adalah roti panggang dan telur.
"Sarapannya standart barat. Jadi kita kasih empat toast dan telur. Bisa dibuat mata sapi ataupun scrambled egg. kalau favorit di sini, bubur havermout pakai buah pisang yang dipotong-potong," tambahnya.
Riwayatnya Kini

Kini, Wisma Delima berada di ujung senja kala.
Boy mengakui banyaknya bisnis penginapan dengan berbagai model yang menjamur di ibu kota memberikan dampak kepada Wisma Delima.
Belum lagi seiring berkembangnya era digital, banyak penginapan yang sudah menggunakan aplikasi penginapan.
Hanya menggunakan telunjuknya, para turis sudah bisa memesan hotel.
Selain itu, badai pandemi Covid-19 turut meluluhlantakkan bisnis pariwisata termasuk penginapannya itu.
• Tenaga Medis di Perbatasan Kabupaten Tangerang Gagal Disuntik Vaksin Covid-19, Ini Alasannya
• Tinjau Kesiapan Lahan Pemakaman Jenazah Covid-19, Wagub DKI Riza Patria Kunjungi TPU Rorotan
• Cerita Hostel Ber-budget Irit Pertama di Jakarta: Sempat Jadi Primadona Pelancong Eropa
"Kondisinya mulai redup ya, bisa dilihat sendiri bule di sini juga udah enggak ada. Memang ini bisa dilihat dari kemajuan teknologi. Semua orang juga berlomba bikin hostel dengan fasilitas yang 'Wah'. Tinggal klik aja, bule udah tahu mau tinggal di mana. Kalau dulu kan enggak," jelasnya.
Namun, ia akan terus mengembangkan bisnis penginapan yang dirintis mendiang ayahnya.
"Kita mau paling enggak bangun empat lantai dengan fasilitas yang zaman sekarang lah," pungkasnya.