Sisi Lain Metropolitan

Kisah Sang Pelukis Senior, Hartono Ungkap Alasan Tak Pernah Torehkan Namanya di Spanduk Pecel Lele

Pelukis spanduk pecel lele senior, Hartono (51) enggan menaruhkan namanya di setiap spanduk yang selesai dilukisnya.

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Wahyu Aji
TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS
Sosok Hartono, pelukis Spanduk Pecel Lele saat ditemui di kontrakannya di kawasan Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, Bekasi pada Sabtu (20/2/2021). 

Ia bekerja ikut adik sepupunya yang membuka usaha warung sea food di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Hartono, yang saat itu masih bujang, juga menyambi pekerjaan lain ketika sedang tidak bekerja di tempat sepupunya itu. 

Siang hari ia berada di Depok untuk mengais rezeki tambahan sedangkan malam harinya bekerja di warung sea food.

"Dari tahun 1992 sampai 1997 itu saya mondar-mandir Depok ke Pondok Pinang. Di Depok saya pernah jadi tukang minyak dan tukang buah. Malam bantuin saudara, siang dorong minyak atau jual buah dingin," ungkapnya.

Pada tahun 1997, ia memutuskan untuk berhenti ikut saudaranya. Hartono kemudian membuat usaha warung pecel lele sendiri.

Namun, ia membutuhkan spanduk untuk warungnya. Hartono kemudian meminta tolong kepada temannya Teguh (51) di kampung.

Sesampainya di kampung, Teguh malah tak berkenan membuatkan spanduk pesanan dari teman dekatnya itu.

Ia malah menyarankan Hartono untuk membuat sendiri. Padahal, Teguh lah yang lebih dulu memulai usaha jasa lukis spanduk pecel lele.

Sosok Hartono, pelukis spanduk pecel lele sedang memegang cetakan kardus berbentuk hewan untuk dilukis di spanduk pada Sabtu (20/2021).
Sosok Hartono, pelukis spanduk pecel lele sedang memegang cetakan kardus berbentuk hewan untuk dilukis di spanduk pada Sabtu (20/2021). (TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS)

Hartono menyangka Teguh tak ingin membantunya lantaran ia bisa melakukannya sendiri.

"Mungkin saya dulu juara Kabupaten, ngapain meminta bantuan. Jadi dia itu agak enggak enak," ceritanya.

Bila ditarik kembali ke masa kecilnya, Hartono dan Teguh merupakan teman satu SMP. Semasa sekolah itu, mereka berdua dikenal pintar melukis.

Hartono mengakui Teguh jago dalam melukis. Ia sempat menyabet juara Porseni (Pekan Olahraga dan Seni) tingkat Kabupaten dari tingkat SD sampai SMP.

Ketika masuk SMA, mereka berpisah. Namun, Hartono dan Teguh bertemu di sebuah kompetisi lukis antar sekolah tingkat kecamatan. 

Hartono pun berhasil menyabet juara pertama dan Teguh juara dua. Karena bakat dan prestasi ini yang barangkali Teguh menolak tawaran Hartono

Teguh hanya menjelaskan cat-cat yang digunakan dan menyarankan Hartono untuk membuat sendiri.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved